Posts

top 10 ignorant white people have told me

This blog post is just another typical Rika's jokes. But if you ever said this to any 'exotic' looking human being, please don't do that anymore.


- You are pretty FOR ASIAN.
Sure, because post-colonialist, mainstream media beauty standard will not allow us, Asian, to be as pretty as blonde white women.

- You speak English so well, did you go to undergrad here in the US?
Yeah, they don't speak English in any other country, only in the US

- This is amazing that you grew up in a Muslim family, in the largest Muslim country in the world, but you are so open-minded.
Tell me again about your religious American family that is anti-LGBT, anti-immigration, and how you argue with them.

- But it's very stupid that people have to wear hijab in a hot and humid country like Indonesia. They must be oppressed.
Why people wear mid-drift and mini-skirt in the middle of a freezing winter night in Michigan? They must be oppressed.

- Have you ever see a skyscraper? Do you have tall buil…

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Image
Pekan lalu saya tepat menjadi 30 tahun. Sering saya dengar 30 adalah angka keramat, si dirty thirty. Jadilah 30 sering menjadi hal besar. Konon rezim perawatan kecantikan agar terlihat muda juga dimulai sejak usia 30.

Katanya, mulai 30 tahun, kulit kita kehilangan kolagen, sehingga tak kencang lagi. Kulit juga tak mulus lagi, dan mudah timbul bercak hitam. Selain itu, metabolisme perempuan juga menjadi semakin lambat, sehingga akan mudah sekali menambah berat badan. Kalau belum menikah, segeralah menikah, karena laki-laki tak tertarik pada perawan tua. Kalau belum punya anak, segeralah berusaha memberi momongan karena tubuh kita tak lagi perkasa untuk hamil dan melahirkan.

Banyak betul momok mengerikan tentang 30an.

Saya tidak tahu apakah kapitalisme atau patriarki yang menciptakan momok tersebut. Yang pasti, kapitalisme membonceng isu-isu tersebut, dan mengambil keuntungan sedalam-dalamnya, seluas-luasnya. Kapitalisme berusaha membuat perempuan 30an kehilangan kepercayaan diri, agar …

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Image
Sudah lihat foto bibir Annisa Hasibuan bertabur kristal Swarovski? Atau fotonya yang menggunakan jubah putih bulu-bulu di tengah salju? Atau mungkin Anniesa sedang berpose manjah di pepohonan musim gugur? Foto Anniesa bercadar? Juga bahkan foto Anniesa tanpa make up dalam bui? Sudah tahu apa merek tas dan harga busana yang dikenakan Anniesa? Berapa biaya perawatan wajahnya dan make up apa yang digunakannya?

Media kita memang sangat kreatif ketika harus mengelaborasi dan mengomentari kehidupan perempuan. Entah perempuan ini tersangka kriminal, atau seorang menteri sekalipun. Berita soal tato dan rambut baru Menteri Susi pada suatu kala melebihi berita tentang kebijakannya dan pencapaiannya dalam melindungi nelayan lokal. Pernah juga baca berita tentang jam tangan merah punya Menteri Sri Mulyani dan betapa sederhana baju batik yang dikenakannya? Atau cat rambut mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Miranda Goeltom?

Sementara itu, apa kita pernah tahu berapa harga batik Menteri Darmin N…

orang tua Indonesia lebih suka liat anaknya kawin dari pada bahagia

Image
Belakangan, banyak betul bergelimpangan tulisan yang makin memperbesar jurang anak muda dan orang tua. Si anak muda bilang: orang tua di Indonesia itu cuma pengen liat anaknya kawin, ga pengen lihat anaknya bahagia. Si orang tua bilang: anak zaman sekarang sok tahu dan susah dibilangan. Kemudian masing-masing menghabiskan waktu untuk saling berasumsi tentang yang lainnya.

Dua pekan lalu saya dan Ibu membicarakan salah satu artikel yang membahas hal ini. Kata Ibu: “Setiap orang tua pasti ingin anaknya bahagia!” Dia sering kali berkata: "Mama sih yang penting teteh seneng," ketika saya meminta pendapat. Padahal di sisi lain Ibu juga tidak bahagia atas keputusan saya hanya menikah di city hall saja. Dia tetap ingin kami menikah dengan cara yang menurut dia lebih benar dan memenuhi ekspektasi masyarakat. Yungalah, lagi-lagi urusan ekspektasi masyarakat kan.

Mungkin sampai invasi mahluk luar angkasa ke Indonesia pun, pola pandang kami tetep nggak akan ketemu. Saya tahu kami akan…

Tanggapan untuk Tanggapan Mahasiwa Plesir*

Dear Mas Farchan, maaf kalau saya tuman, berani-beraninya memberi tanggapan untuk tanggapan. Siapalah saya, boro-boro jadi pejabat eselon IV, selesai sekolah bisa dapat pekerjaan atau tidak saja hati ini masih kejet-kejet.

Malam kemarin, saya baru selesai cuci piring dan bersiap tidur, ketika seorang teman mengirimkan tautan menuju tulisan Mas Farchan. Sungguhpun saya kira tulisan tersebut sarkasme semata karena saya nda pernah kepikiran bahwa orang bisa senyinyir itu. Habis membaca, saya cuma ketawa-ketawa dan langsung tidur. Adem ayem saja.
Keesokan paginya, ramai betul rupanya perbincangan tentang tulisan Mas Farchan. Sebetulnya, saya tak menyalahkan penulis juga, sih. Bagi mereka yang belum pernah sekolah master, apalagi kalau pas sekolah sarjananya santai, pasti akan menganggap sekolah ke luar negeri itu: eat, travel, selfies, repeat. Apalagi kalau stalking instagram temen-temen yang sedang bersekolah, pas sudah itu eat, travel, selfies, repeat.

Padahal, yang nggak keliatan di in…

Mengapa Perppu Pembubaran Ormas tidak perlu

Akhir 2014 lalu, banyak organisasi masyarakat, termasuk Muhammadiyah, menggugat keberadaan UU Ormas. Gugatan tersebut dikabulkan sebagian, sebagaimana dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva, katanya negara tidak boleh membelenggu kebebasan masyarakat dalam mengatur urusan organisasinya yang menjadi wilayah otonomi masyarakat.

Hampir tiga tahun berlalu, ternyata pemerintah belum puas juga. Pekan ini Jokowi baru saja menandatangani Perppu No 2/ 2017, atau yang dikenal dengan Perppu pembubaran Ormas. Perppu ini muncul menggantikan UU No 17/ 2013 yang kalah dalam gugatan tersebut. Padahal, dari pada ditambal sulam menjadi Perppu (setelah sebelumnya ditambal-sulam berulang kali), UU Ormas ini baiknya dihapus saja, karena isinya tumpang tindih dengan banyak peraturan lain.
Koalisi Kebebasan Berserikat (KKB) yang juga menang dalam gugatan Judicial Review terhadap UU Ormas pernah melakukan analisa terhadap UU tersebut dan menemukan bahwa: 6 pasal sudah diatur dalam UU tindak pidana terorisme dan pe…

wartawan pria kulit putih dan perempuan kulit berwarna

Pada akhir musim semi (atau mungkin awal musim panas) tahun ini, saya mengikuti liputan investigasi seorang wartawan penerima Pulitzer. Seorang kulit putih, tinggi besar, berusia matang, berkewarganegaraan Amerika. Tak hanya buku, bahkan katanya karya tulisnya pernah juga difilmkan.

Perjalananan selama seminggu di kapal patroli pulau-pulau terluar milik kementerian, lalu di kapal nelayan sewaan untuk menginvestigasi kapal karam dari Perang Dunia Kedua, berjalan terbilang lancar. Saya yakin, salah satu yang membuat lancar adalah karena si wartawan ciamik penerima Pulitzer ini adalah kulit putih, dan pria. Kalau dia perempuan, akan lain cerita.

Misalnya saja, saat kami harus mewawancara puluhan mantan pelaut yang terugikan oleh sebuah perusahaan pelayaran asal Korea. Dia memberi perintah yang sangat detil kepada beberapa orang yang dia hire untuk membantu proses wawancara puluhan mantan pelaut. Sangat detil sampai ke bagaimana jenis jawaban yang dia cari, dan apa yang dia harapkan ada …