Posts

Death

My best friend's mum passed away two days ago, and I just knew it this morning when I was in a meeting with friends.

She was one of the strongest women I've ever know. She raised two kids by her own hand, while worked hard in the military. She went to meet my mum when my dad passed away and offered so much help to our family. She forever inspires me.

This is the third time I lost important people in my life since I moved to the US.

My high school best friend passed away in the first month when I arrived in Michigan. The maternal mortality rate is high in Indonesia. My friend passed away when she was delivering her third baby. I had not talked to her for a while, our last conversation was when she told me that when we were in the high school, I always wanted to be a journalist. But I never knew what she wanted to be. She was the smartest, she can be anything, but she was not sure.

By the end of last year, I lost a colleague, one of the most dedicated people I knew in human righ…

Indonesian Fossil Fuel Folly: How Miscalculation Take the Country Away from the Energy Revolution

The Indonesian government claims that an additional 75 Gigawatt of power stations are needed over the next ten years to meet the power needs of the country. In order to fulfill the need, the government estimates that they will need to build a power plant that can produce 35 gigawatt, over the next five years as the first step. The state owned enterprise on electricity, PLN, will build 15 gigawatt, or 43% of the plan, and the private sector will lead the development of the remaining.
The new power plant will largely rely on coal, an energy source of which Indonesia has vast reserves. It would stimulate coal demand, increase consumption, and help the country’s growing economy. The President Director of PLN also states that coal is considered the cheapest power plant investment in the country.
Last year, PwC responded to this assumption critically. Based on data on the Indonesian coal reserves and predictions of the coal consumption for the additional 20 gigawatt coal power plant, Indone…

top 10 ignorant white people have told me

This blog post is just another typical Rika's jokes. But if you ever said this to any 'exotic' looking human being, please don't do that anymore.


- You are pretty FOR ASIAN.
Sure, because post-colonialist, mainstream media beauty standard will not allow us, Asian, to be as pretty as blonde white women.

- You speak English so well, did you go to undergrad here in the US?
Yeah, they don't speak English in any other country, only in the US

- This is amazing that you grew up in a Muslim family, in the largest Muslim country in the world, but you are so open-minded.
Tell me again about your religious American family that is anti-LGBT, anti-immigration, and how you argue with them.

- But it's very stupid that people have to wear hijab in a hot and humid country like Indonesia. They must be oppressed.
Why people wear mid-drift and mini-skirt in the middle of a freezing winter night in Michigan? They must be oppressed.

- Have you ever see a skyscraper? Do you have tall buil…

Karena usia cuma deretan angka-angka!

Image
Pekan lalu saya tepat menjadi 30 tahun. Sering saya dengar 30 adalah angka keramat, si dirty thirty. Jadilah 30 sering menjadi hal besar. Konon rezim perawatan kecantikan agar terlihat muda juga dimulai sejak usia 30.

Katanya, mulai 30 tahun, kulit kita kehilangan kolagen, sehingga tak kencang lagi. Kulit juga tak mulus lagi, dan mudah timbul bercak hitam. Selain itu, metabolisme perempuan juga menjadi semakin lambat, sehingga akan mudah sekali menambah berat badan. Kalau belum menikah, segeralah menikah, karena laki-laki tak tertarik pada perawan tua. Kalau belum punya anak, segeralah berusaha memberi momongan karena tubuh kita tak lagi perkasa untuk hamil dan melahirkan.

Banyak betul momok mengerikan tentang 30an.

Saya tidak tahu apakah kapitalisme atau patriarki yang menciptakan momok tersebut. Yang pasti, kapitalisme membonceng isu-isu tersebut, dan mengambil keuntungan sedalam-dalamnya, seluas-luasnya. Kapitalisme berusaha membuat perempuan 30an kehilangan kepercayaan diri, agar …

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Image
Sudah lihat foto bibir Annisa Hasibuan bertabur kristal Swarovski? Atau fotonya yang menggunakan jubah putih bulu-bulu di tengah salju? Atau mungkin Anniesa sedang berpose manjah di pepohonan musim gugur? Foto Anniesa bercadar? Juga bahkan foto Anniesa tanpa make up dalam bui? Sudah tahu apa merek tas dan harga busana yang dikenakan Anniesa? Berapa biaya perawatan wajahnya dan make up apa yang digunakannya?

Media kita memang sangat kreatif ketika harus mengelaborasi dan mengomentari kehidupan perempuan. Entah perempuan ini tersangka kriminal, atau seorang menteri sekalipun. Berita soal tato dan rambut baru Menteri Susi pada suatu kala melebihi berita tentang kebijakannya dan pencapaiannya dalam melindungi nelayan lokal. Pernah juga baca berita tentang jam tangan merah punya Menteri Sri Mulyani dan betapa sederhana baju batik yang dikenakannya? Atau cat rambut mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Miranda Goeltom?

Sementara itu, apa kita pernah tahu berapa harga batik Menteri Darmin N…

orang tua Indonesia lebih suka liat anaknya kawin dari pada bahagia

Image
Belakangan, banyak betul bergelimpangan tulisan yang makin memperbesar jurang anak muda dan orang tua. Si anak muda bilang: orang tua di Indonesia itu cuma pengen liat anaknya kawin, ga pengen lihat anaknya bahagia. Si orang tua bilang: anak zaman sekarang sok tahu dan susah dibilangan. Kemudian masing-masing menghabiskan waktu untuk saling berasumsi tentang yang lainnya.

Dua pekan lalu saya dan Ibu membicarakan salah satu artikel yang membahas hal ini. Kata Ibu: “Setiap orang tua pasti ingin anaknya bahagia!” Dia sering kali berkata: "Mama sih yang penting teteh seneng," ketika saya meminta pendapat. Padahal di sisi lain Ibu juga tidak bahagia atas keputusan saya hanya menikah di city hall saja. Dia tetap ingin kami menikah dengan cara yang menurut dia lebih benar dan memenuhi ekspektasi masyarakat. Yungalah, lagi-lagi urusan ekspektasi masyarakat kan.

Mungkin sampai invasi mahluk luar angkasa ke Indonesia pun, pola pandang kami tetep nggak akan ketemu. Saya tahu kami akan…

Tanggapan untuk Tanggapan Mahasiwa Plesir*

Dear Mas Farchan, maaf kalau saya tuman, berani-beraninya memberi tanggapan untuk tanggapan. Siapalah saya, boro-boro jadi pejabat eselon IV, selesai sekolah bisa dapat pekerjaan atau tidak saja hati ini masih kejet-kejet.

Malam kemarin, saya baru selesai cuci piring dan bersiap tidur, ketika seorang teman mengirimkan tautan menuju tulisan Mas Farchan. Sungguhpun saya kira tulisan tersebut sarkasme semata karena saya nda pernah kepikiran bahwa orang bisa senyinyir itu. Habis membaca, saya cuma ketawa-ketawa dan langsung tidur. Adem ayem saja.
Keesokan paginya, ramai betul rupanya perbincangan tentang tulisan Mas Farchan. Sebetulnya, saya tak menyalahkan penulis juga, sih. Bagi mereka yang belum pernah sekolah master, apalagi kalau pas sekolah sarjananya santai, pasti akan menganggap sekolah ke luar negeri itu: eat, travel, selfies, repeat. Apalagi kalau stalking instagram temen-temen yang sedang bersekolah, pas sudah itu eat, travel, selfies, repeat.

Padahal, yang nggak keliatan di in…