Saturday, February 25, 2017

tips menghalau musim dingin

Saat cari-cari sekolah, saya cenderung emncari sekolah di daerah selatan: supaya tidak terlalu dingin. Apa boleh buat, sekolah yang saya tuju dan disetujui oleh pemberi beasiswa adalah sekolah di midwest, yang dinginnya minta ampun, dan panjang pun.

Seorang teman yang pernah tinggal di Alaska mengatakan bahwa meski Alaska bisa jadi lebih dingin pada waktu tertentu, namun musim dinginnya tidak sepanjang di Ann Arbor yang sudah mulai dingin betul pada akhir Oktober, dan bisa terus dingin hingga awal April.

Namun, setelah mengalami kisaran -27'C pada akhir November-awal Desember, saya pikir musim dingin ternyata tidak separah yang saya khawatirkan saat masih tinggal di negara tropis yang suhunya tidak jauh-jauh dari 29'C-33'C. Musim dingin justru bikin kita tidur lebih tenang, dan badan lebih rileks. Aktivitas pun tidak akan terganggu kalau kita memiliki peralatan tempur yang cukup.

Jadi, apa saja yang harus kamu ketahui saat akan mengahdapi musim dingin?

1. Tempat tinggal
Saat mencari tempat tinggal, pastikan rumah tersebut memiliki kemampuan insulasi yang baik, dan menyimpan panas. Rumah dengan kemampuan insulasi buruk akan membuat tagihan gas/ listrik membengkak karena panas yang dikeluarkan oleh penghangat ruangan akan segera hilang. Salah satu cara paling mudah adalah apakah rumah tersebut memiliki jendela ganda, jendela sisi luar biasanya adalah storm window, lalu ada lagi daun jendela bagian dalam. Juga pastikan dinding dan langit-langit rumah tidak memiliki bocor halus yang menyebabkan udara bisa keluar-masuk. Rumah yang atapnya tidak ada salju menumpuk juga tanda-tanda insulasi buruk.

2. Jaket dan boots berinsulasi
Jangan lupa menyisihkan uang untuk membeli jaket dan boots dengan insulasi baik. Namun tdak perlu keburu nafsu. Tunggu saja sampai tiba di negara tujuan. Barang-barang macam begini akan jauh lebih murah dari pada beli di Indonesia.

The North Face dan Sorrel adalah dua merek yang palig direkomendasikan oleh teman-teman lokal di sini. Investasi untuk kedua barang ini tidak sedikit. Harga banderol jaket TNF yang saya beli bisa mencapai $250 di website Northface, dan sepatu Sorrel sekitar $150. Namun, ada trik untuk mengakali harga yang mahal ini.

Pertama adalah pergi ke toko dan ukur boots yang paling pas buat kakimu. Jangan lupa untuk mencoba dengan kaos kaki tebal, atau dengan menaikan setengah ukuran lebih besar. Catat model dan ukuran yang cocok dengan kamu, lalu cari barang yang sama di Amazon. Membeli barang-barang jauh-jauh hari dari musimnya (saya membeli jaket winter saat masih fall) biasanya membuat harga barang tersebut jadi lebih murah, terutama kalau ukuran kamu bukan ukurang yang pasaran (alias cenderung kecil banget atau gede banget). Misalnya saja, boots yang harga banderolnya $150, saya dapat hanya sekitar $70, dan jaket saya dapat dengan harga sekitar $120. Kalau boots yang kamu cari adalah untuk musim dingin, pastikan boots dan jaket tersebut memiliki tag insulated, sub zero, dan water proof.

Selain itu, saya sarankan untuk memiliki lebih dari satu boots. Selain boots untuk musim dingin, boots untuk musim gugur juga perlu. Karena kalau pakai boots musim dingin saat musim gugur kaki bisa kerigetan.

3. Thermal underwear
Untuk thermal underwear, saya beli dua pasang di Uniqlo Jakarta sebelum berangkat, lalu ditambah lagi beli saat sampai di Amerika. Keuntungan tinggal di negara kapitalis adalah, mereka selalu punya discount untuk banyak perayaan apapun. Sedikit-sedikit disuruh belanja, sedikit-sedikit dikasih discount lah pokoknya. Jadi, jangan khawatir, kalau nggak sempat beli di Indonesia, beli online saja ketika sampai di negara tujuan.

Saya merekomendasikan Uniqlo karena selain harganya murah, dan ukurannya yang pas dengan tubuh asia, dia juga tipis tapi hangat betul. Uniqlo punya tiga level kehangatan: warm, extra warm, dan ultra warm. Saya tidak sampai memakai yang ultra warm, tetapi saat puncaknya musim dingin saya mendobel war dan extra warm sekaligus.

4. Wool, cashmere, fleece, flannel
Ketahui bahan-bahan yang bikin hangat. Kaos kaki wool cocok banget di musim dingin, terutama smart wool. Tapi begitu masuk ruangan, bisa bikin keringetan. bagi saya, wool bisa hangat batul dan sangat membantu menjaga panas, tetapi kalau dipakai langsung tanpa lapisan, membuat kulit gatal, berat pula. Cashmere lebih ringan dari wool dan tak kalah hangat, tapi perawatannya rempong karena harus dry clean. Fleece ini paling juara karena hangat dan mudah perawatannya, tapi biasanya nggak begitu fashonable. Haha. Anak muda Ann Arbor sering pakai flannel dan legging. Menurut saya, gaya flannel dan legging ini memang nyaman betul, karena saya nggak suka pakai jeans.

Omong-omong soal jeans, ada juga jeans yang dilapisi fleece di bagian dalam agar lebih hangat. Saya belum pernah mengenakan ini, tapi kelihatannya memang hangat betul. Selain itu legging juga ada yang dilapisi bagian dalamnya agar lebih hangat.

5. Tumpuk-tumpuk
Suhu pada musim dingin tidak ajeg. Bisa jadi pada pagi hari suhu mencapai -20an, tetapi di puncak siang bisa cuma -5, sebab itu pakai baju tumpuk-tumpuk lebih disarankan dari pada pakai satu baju yang tebal betul. Saat cuaca paling dingin, biasanya saya pakai thermal clothes, lalu dilapisi kaos tangan panjang, cashmere, flannel, dan jaket salju kalau akan berjalan di luar rumah. Dengan begini saya bisa copot satu-satu tergantung perubahan suhu. Kadang, cashmere dan flannel diganti dengan memakai fleece.

6. Aksesori
Topi kupluk, sarung tangan, syal/ neck warmer harus banget punya. Sarung tangan saya sarankan beli yang bisa touch screen. ga perlu beli yang mahal, punya saya $10 doang di Amazon, tapi yahud abis. Saya juga suka pakai ski mask, anak lokal jarang pake sih, tapi ski mask/ baclava ini enak banget dipake pas naik sepeda. Selain itu, banyak teman juga pakai ear muff, dan head band rajut.

last but not least, dingin itu soal kebiasaan dan mental. Jangan takut sama dingin, karena lama-lama pasti terbiasa, what doesn't kill you makes you stronger lah pokoknya.

Monday, January 23, 2017

Jakarta

Things I miss

Yoga and gym
Haven’t found a nice yoga place that doesn’t make me feel like doing gymnastic here. I really enjoy yoga back home because it is about breathing and accepting yourself.

Gojek
Gojek has saved my life so many times. One day I left my wallet on Friday night at the office, Friday night in Jakarta means crazy traffic jam. But Gojek managed to get my wallet from the office and deliver it to me in less than an hour from Kuningan to Senayan. Also, I really missed getting my book delivered from the bookstore to the where I live by Gojek. Alright, also food. Surprise.

Easy banking system
Indonesian banking system is amazing, you can just transfer money from any bank to any other bank, not the luxury that I can get in the US. Also, transferring money from general banking service to mutual funds investment is just as easy.

Service Industry
Waxing, hair cut, massage, cream bath... you name it. The therapies are usually very friendly, deliver superb services and only half price than the US.

Roof top bars
Maybe because I live in a small town now no skyscrappers, no rooftop bars. Sky bars and party scenes in Jakarta are pretty amazing.

Cinema
OMG INDONESIAN MOVIE THEATER IS KILLING IT. There’s no thick big sofa, or bed in the movie theater here. It’s twice the price but half the comfort.

24 hours city
Jakarta never sleeps, the vibe, the energy, it makes me feel more alive.

Paradise dynasty the legend of xiao long bao
I miss the amazing vegetarian laumien. Also in need of amazing yet cheap sushi place.

Abang rujak and tropical fruits
Sweet mango delivered to the office in the middle of the day is one of the best things happened in my life.


Things I don't miss

Macet
Once I got stuck for five hours in a traffic jam for the distance that supposed to take 45 minutes drive.

Cat Calling
The record was 14 cat calls in less than 10 minutes walk to the office.

Crime
Glad in Ann Arbor I can use my phone on the bus without feeling worried that somebody will steal it (nobody wants iphone 5 anyway).

Expensive Alcohol
Glad I don’t have to spend $13 for gin and tonic or $10 for corona anymore.

Driver who don’t know how to use the map/ gps
I had enough uber or gojek who cannot find my place even if the address and the pin on the map are accurate.

Cake, donut, bagel, bread
They are so expensive and not that amazing. I’d say Lucky’s Supermarket’s  red velvet cupcake is as good as overpriced red velvet cake in Jakarta's most popular restaurant.

Bagel
Why the one I Plaza Senayan is not that great but expensive?

Pollution and the fact that I have to buy water
Thus I really don't get it why people buy water bottle in Murica. Like, hell yeah capitalism!



Friday, December 16, 2016

mempersiapkan aplikasi sekolah

Mendaftar sekolah di Amerika sedikit lebih rumit dari pada mendaftar di negara lain. Saya mendaftar sekolah di kampus bergengsi di London, Inggris, selain gratis, prosesnya juga mudah (cuma kirim satu essay, dan IELTS 7). Dua minggu kemudian, langsung mendapat LoA.

Namun, mendaftar di kampus Amerika lebih panjang prosesnya, selain bisa juga mahal. Ada banyak tes, dan administrasi yang harus dilalui. Tiap-tiap tes punya biaya sendiri, belum lagi konversi nilai dan mendaftarkan aplikasi juga ada biayanya.

Lalu, apa saja yang harus kamu pahami saat ingin mendaftar sekolah?


1.     TOEFL
Amannya punya TOEFL IBT di atas 100. Selain aman untuk mendaftar, juga aman buat kehidupan. Kemampuan berbahasa Inggris yang pas-pasan bisa menyusahkan ketika harus mengikuti perkuliahan. Selain karena banyak mata pelajaran yang kejar tayang, alias banyak materi tapi waktu terbatas, sehingga professor akan berbicara sangat cepat, juga banyak mata kuliah yang mengharuskan berdiskusi.

Seorang teman mahasiswa dari China pernah menghampir saya, dan bertanya: bagaimana caranya biar bisa aktif berdiksui dan lancar bicara bahasa Inggris. Jawaban saya saat itu: pede aja sih. It's ok to make mistakes, dan pasti make mistakes, namanya juga bukan native, pasti nggak sebagus mas dan mbak native. Tapi kita harus sudah berada di level nyaman menggunakan bahasa Inggris.

Les TOEFL bisa banget meningkatkan bahasa Inggris. Namun, jangan sampai les TOEFL cuma untuk ningkatin nilai lalu cuma belajar tips dan trik biar skornya bagus. Bagi saya, yang lebih penting dari cerminan nilai TOEFL adalah bisa berkomunikasi dengan lancar dalam kehidupan sehari-hari, dan mengikuti persekolahan tanpa hambatan bahasa yang berarti.

2.     GRE/ GMAT
GRE (saya tidak mengambil GMAT) adalah 3 jam 35 menit yang paling menantang sepanjang pengalaman saya mengikuti berbagai macam tes. Seumur hidup, cuma sekali mengikuti tes sampe setengah mati rasanya.

Ada tiga komponen dalam GRE, quantitative, verbal, dan analytical writing. Awalnya saya khawatir betul mengahadapi tes quantitative, karena kemampuan matematika yang sebatas perkalian dan pembagian. Quantitative ini semacam matematika dasar (tapi susah banget). Namun, untungnya tes quantitative masih bisa menggunakan logika, mungkin sebab itu tes di bagian ini skor saya lebih tinggi dibanding dua tes lain.

Tes lainnya adalah verbal, yang uda deh, ga bisa diapa-apain selain menghapal ribuan kata. Tes verbal biasanya akan menghadirkan kata-kata yang jarang betul digunakan. Sementara bagian terakhir adalah analytical writing. Mirip writing di TOEFL, tapi lebih detil.

Rerata kampus menerima GRE, kecuali sekolah bisnis dan ekonomi yang menggunakan skor GMAT. Namun, GRE/GMAT tidak melulu vital. Dengar-dengar, kedua tes ini cuma penting kalau seseorang baru lulus S1/ undergrad. Sementara, bagi mereka yang sudah punya pengalaman bekerja lebih dari lima tahun, apalagi mahasiswa internasional, komponen ini tidak terlalu penting. Well, saya bukan tim admisi, jadi tidak paham betul kebenarannya. Saya cuma tahu seorang teman yang baru lulus S1 dan langsung sekolah master, mempetisi agar tidak perlu menyetor hasil skor GRE, dan dikabulkan oleh kampus.

3.     Essay (personal statement & study objective)
Bagaimana caranya membuat essay bagus? Banyak membaca, dan banyak menulis. Essay kamu belum bagus kalau belum direview 10 kali dan ditulis ulang 10 kali. Serius.

Banyak yang menulis essay cuma mengopi saja dari essay temannya yang lulus di kampus bergengsi, padahal essay harus personal dan mencerminkan diri dan pandangan kita. Misalnya, kenapa mau sekolah di sana, apa yang bisa kita tawarkan dan ambil dari sekolah, dan apa rencana ke depan. Harus betul-betul paham apa yang diinginkan, apa kekuatan dan kelemana, juga apa yang ingin diperbaiki, sebelum bisa menulis essay yang kuat.

Lebih dari itu, essay harus personal juga bukan cuma personal tentang diri kita, tapi juga personal tentang sekolahnya. Jangan kirim essay yang menunjukan pemikiran yang anti kapitalis ke kampus dengan tag-line mencetak ribuan pebisnis handal, misalnya. Harus dipikir betul kecocokan bidang studi, pandangan, dan visi-misi kampus.

4.     Konversi nilai IPK
Saya tidak melakukan konversi nilai sendiri karena dibantu oleh penyelenggara beasiswa. Dari pengalaman beberapa teman, konversi nilai juga agak mahal dan tidak selalu mudah.

5.     Wawancara
Tidak semua kampus meminta wawancara. Wawancara bisa jadi dilakukan untuk meyakinkan tentang apa-apa yang ada di essay, dan apakah kamu sungguh-sungguh ingin masuk sekolah tersebut. Selain itu wawancara juga bisa digunakan agar professor mengetahui minat kamu sehingga mereka tahu harus menempatkanmu di bawah bimbingan siapa. Namun, saat saya bertanya ke bagian admisi kampus di sela orientasi kemarin dulu, Direktur Admisi cuma bilang: oh, iya, kalo mahasiswa internasional biasanya wawancara ngobrol-ngobrol doang biar tahu beneran bisa ngomong bahasa Inggris apa nggak. Haha.


Selain lima point di atas, satu hal lagi yang kadang terlupa: namanya juga manusia, kadang menonjol di satu sisi, dan memble di sisi lain. Cari tahu kamu paling menonjol di mana, lalu eksplorasi bagian tersebut di aplikasi. Misalnya, skor GRE saya ala-ala banget. Saat pengurus beasiswa terus menerus menyuruh kami untuk mengambil ulang GRE, saya sudah bertekad tidak akan melakukan hal tersebut. Selain karena mahal, juga karena saya paham batas kemampuan, belum lagi ditambah waktu yang terbatas, tidak banyak yang bisa dilakukan.

Namun, saya niat betul saat menulis essay. Essay yang saya tulis hanya dua kali di-edit oleh tim beasiswa, dan langsung disetujui. Namun, sebelum dua kali tersebut, saya sepuluh kali menulis essay, dan tanpa punya malu meminta siapapun untuk memeriksa. Mulai dari rekan kerja, teman yang pernah sekolah di Amerika, advisor di Atamerica, sampai Ibu Sofia, istri Dubes Amerika saat itu, juga saya minta untuk membaca dan mengomentari essay tersebut.

Namanya juga manusia, kecuali jenius banget sih, pasti ada bagus dan jeleknya. Ketahui kamu bagusnya di mana, jangan iya-iya saja saat disuruh begini-begitu, tetapi juga harus lakukan yang terbaik yang kamu bisa.


Selamat mendaftar, sampai berjumpa di Amerika!


Baca juga:

Thursday, December 15, 2016

Pertanyaan tiga tahun lalu: kenapa menanam sejuta pohon merugikan?

Tiga tahun lalu, saya bertanya kepada seorang rekan kerja yang paham betul persoalan lingkungan. Pertanyaan saya sederhana: saya tahu program penanaman sejuta pohon bukanlah program yang baik, karena selain mahal, kesuksesan menanam pohon sangatlah kecil. Jadi yang paling baik tentu saja adalah dengan tidak menggunduli hutan. Namun, apa kesalahan fundamental dari menanam pohon?

Rekan kerja cuma tersenyum kecil sambil tertawa: panjang kalau diceritakan.

Percakapan terhanti sampai di sini. Pertanyaan saya tidak terjawab, dan jadi merasa bodoh betul.

Pekan lalu seorang teman bertanya kepada saya: kenapa program menanam sejuta pohon itu tidak baik? Lalu saya teringat kembali percakapan tiga tahun lalu tersebut.

Saya pikir, ini kesalahan ilmuwan, atau kebanyakan orang pintar. Terlalu malas menjelaskan kepada orang bodoh seperti saya, atau mungkin tidak tahu cara menjelaskan persoalan rumit dengan bahasa sederhana. Bisa juga terlalu arogan, merasa waktunya terlalu berharga untuk digunakan menjelaskan persoalan rumit kepada orang yang tidak paham.

Padahal, keengganan ini adalah kesalahan fatal. Ketidakpedulian adalah awal mula fanatisme. Tertawa kecil tersebut bisa membuat orang jadi rendah diri, atau bahkan sakit hati, karena merasa dicap bodoh.

Orang biasa seperti saya, yang sungguh-sungguh bertanya dan ingin tahu, bisa padam semangatnya, lalu menganggap hal-hal yang terdengar rumit adalah tidak relevan bagi kehidupan saya, sehingga akhirnya tidak lagi peduli. Belum lagi ditambah perasaan tidak setara dengan orang pintar, lalu terciptalah jarak.

Lebih gawat lagi kalau ketidakpedulian dirangkul oleh orang-orang yang yang ingin memanfaatkan kenaifan, dirangkul oleh mereka yang berpersepsi yang sempit.  Lalu, sebelum kita sadari, muncullah fanatisme, atas nama apapun, agama, suku, ras, golongan. Karena mereka yang merasa pintar enggan berbagi. Lalu ketika nasi sudah menjadi bubur cuma bisa mencemooh: ini pasti karena kurang pendidikan. 

Mengapa sulit betul turun dari menara gading, dan berbicara dengan bahasa yang dimengerti khalayak ramai? Mengapa ilmu harus menjadi sesuatu hal yang tinggi dan tidak dibagi-bagi? Apakah orang-orang pintar ini terlalu arogan, atau justru khawatir kehilangan hak istimewa apabila ada lebih banyak orang yang memahami masalah-masalah ruwet dengan bahasa yang sederhana?

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan soal kenapa orang pintar sulit bagi-bagi ilmu. Tapi, kira-kira begini penjelasan kenapa menanam sejuta pohon merugikan, dengan bahasa yang mudah saya pahami.
  1. Tidak semua area alami yang mendukung flora dan fauna (juga disebut bioma) harus berbentuk hutan. Setiap area punya keunikan masing-masing, dan mendukung jenis flora dan fauna yang berbeda-beda. Hutan yang sehat bisa jadi bioma yang baik, namun bukan berarti bioma yang bukan hutan adalah tidak baik. Misalnya saja, hutan hujan tropis yang sangat lebat tidak bisa mendukung bibit pohon jenis tertentu untuk tumbuh karena banyak jenis bibit pohon tropis membutuhkan pencahayaan matahari langsung, sementara di hutan tropis yang rimbun, cahaya matahari tidak mencapai ke bagian bawah dan tertahan di kanopi rerimbunan daun.
  2. Sistem akar di padang rumput juga bisa menyimpan banyak karbon. Merusak padang rumput dengan menanam pohon bisa merusak sistem penyimpanan karbon ini, dan malah melepas karbon ke udara.
  3. Penyimpanan Karbon di sistem akar tidak akan terganggu meski terjadi kebakaran hutan. Sementara hutan menyimpan karbon di atas tanah, yang akan terlepas ketika terjadi kebakaran hutan. Sistem penyimpanan karbon di bawah tanah, bisa jadi lebih aman dari kemungkinan terlepas ke atmosfir.
  4. Rawa gambut juga salah satu bioma yang mendukung flora dan fauna yang unik, selain juga dapat menyimpang banyak karbon. Mengganti rawa gambut dengan pohon atau kebun akan melepas banyak karbon, dan sebanyak apapun pohon yang ditanam tidak bisa menggantikan penyimpanan karbon yang terlanjur dibuang ke udara.
  5. Sejak SD kita selalu diajarkan bahwa hutan hujan tropis memiliki lapisan tanah yang sangat kaya, padahal belum tentu. Lapisan tanah di hutan hujan tropis bisa jadi sangat kekurangan nutrisi karena curah hujan yang tinggi akan membasuh nutrisi tanah. Sementara laju penguraian yang tinggi juga mengurangi tumpukan daun yang bisa menjadi tempat tinggal banyak serangga, reptil, atau sarang burung.
  6. Suksesi area tertentu untuk menjadi hutan bukanlah hal mudah yang sim salabim langsung jadi cuma karena kita menanam pohon. Jika pohon tertentu tidak bisa ditanam di area tertentu, bisa jadi karena memang area tersebut tidak memiliki komponen-komponen yang mendukung pohon untuk tumbuh.
  7. Berapa biaya untuk bobot pohon? Berapa karbon yang dikeluarkan untuk memindahkan bibit pohon? Berapa kemungkinan bibit tersebut sukses menjadi pohon? 
  8. Menanam pohon dengan serampangan bisa jadi menguras air tanah di kawasan tersebut, mengganggu habitat padang rumput alami, mengikis lapisan air tanah, dan merusak lanskap.
Bukan berarti tidak boleh menanam pohon. Menanam boleh-boleh saja, tapi banyak yang harus diperhatikan. Apalagi kalau menanamnya sampai sejuta pohon. Belum lagi mikirin pohon apa yang ditanam, apalagi kalau pohonnya ternyata bukan pohon asli dari daerah tersebut. Pohon datangan dari daerah lain yang bersifat invasif biasanya bersifat semacam menyerbu dan mengancam pohon lokal. Merebut lahan dan nutrisi, dan tidak memiliki musuh alami.

Sekali lagi, bukan berarti tidak boleh menanam pohon. Hanya saja kalau Kementerian yang itu niatnya adalah mengurangi pemanasan global dan mengurangi karbon, programnya lebih tepat kalau: nol deforestasi, dilarang menebang pohon, dilarang merusak padang rumput, jangan mengalihfungsikan lahan, dan semacamnya, alih-alih tanam sejuta pohon yang nda jelas pohonnya bisa hidup apa nda.

Mungkin masih banyak alasan lain, semoga nanti orang-orang pintar yang lebih paham persoalan ini, bisa juga berbagi dengan bahasa yang bisa dimengerti.

Monday, December 5, 2016

Pilih-pilih sekolah

Saya menulis artikel ini karena beberapa waktu lalu ada calon mahasiswa yang bingung mau pilih antara beasiswa untuk ke Yale, atau beasiswa dari USAID. Lama betul dia bolak-balik, maju mundur, tak juga yakin atas satu atau lainnya.

Saat dia bolak balik curhat, pertanyaan pertama saya saat itu cuma satu dan tak berubah-ubah, "Kamu pengen sekolah di Yale karena sudah cocok dengan kurikulum, professor, mata kuliah, tujuan hidup, dan kotanya, atau cuma karena keren aja gitu kalau kuliah di Yale?" 

Banyak calon mahasiswa yang silau dengan nama besar. Sebut saja Yale dan Harvard, orang pasti langsung terperangah. Padahal bahaya betul kalau pilih sekolah cuma karena nama besar atau ranking. Ranking dan nama besar tidaklah penting, yang paling penting apakah kamu cocok dengan kurikulum, atmosfir kampus, dan kehidupan sosial di kota yang akan dituju. Karena sekolah S2 di Amerika bisa brutal, dan kenyamanan adalah nomor satu. Setidaknya menurut saya.

Saya mendapat LoA (Letter of Acceptance) dari empat kampus di Amerika Serikat. Satu kampus adalah kampus yang saya inginkan, dan tiga lainnya pilihan dari pemberi beasiswa (kami diberi kesempatan mengajukan empat kampus, namun dari seluruh kampus yang saya ajukan, cuma satu yang disetujui). Kenapa saya memilih kampus ini, alasan generalnya karena kurikulum, tiga kampus lain meski sama-sama Komunikasi Lingkungan, tetapi berada di bawah Sekolah Komunikasi, kampus saya saat ini di bawah Sekolah Lingkungan. Namun, selain kurikulum, banyak betul hal-hal penting yang jarang dibahas di artikel-artikel soal kuliah di luar negeri.

Hal pertama yang sering dilihat orang adalah nama besar dan ranking, selain itu, tentu juga penting untuk mencari tahu soal professor dan hal-hal lain terkait akademik. Kalau kamu niat mencari sekolah, pekerjaan rumah macam ini pasti sudah dipenuhi. Namun, apalagi hal-hal penting di luar ranking, dan urusan akademik lain yang sering terlupa saat pilih-pilih kampus?

Atmosfir kampus
Saat mencari-cari kampus, jangan untuk membaca review di internet tentang kampus tersebut. dari review-review di internet, saya memahami kenapa saya memilih kampus ini dan tidak kampus lain (misalnya karena kampus lain sangat akademis dan riset, dan tidak fokus pada aplikasi seperti kampus saya saat ini). Juga apakah kampusmu sangat kompetitif dan memiliki atmosfir yang saling sikut-sikutan, atau saling bahu-membahu.

Saya bukan orang yang kompetitif dan tidak merasa harus berkompetisi dengan orang lain. Satu-satunya kompetisi yang paling penting dalam hidup saya adalah dengan diri sendiri. 

Pada hari pertama penerimaan mahasiswa baru, provost di kampus berkata: "you are here because you are amazing, but remember that you are just a human, please remember to take care of yourself. Graduate life is going to be hard, there will always be a time when you are full of doubt and think that it was a mistake that you are chosen to be in this school. Remember, we don't make mistake in choosing our scholars, when the doubt come, take a rest, take care of ourselves. There is no need to compete, we have enough master degree for everyone. Help each other, and take care of yourself."

Ucapan tersebut sangat cocok dengan filosofi dan kepercayaan saya, sebab itu saya senang-senang saja bersekolah di sini. Namun, bagi mereka yang kompetitif dan sukanya bersaing dengan teman sekolah, mungkin mereka akan sengsara di kampus macam ini.

Kota
Seorang teman kampus menolak LoA dari Yale dan memilih bersekolah di kampus yang sama dengan saya lantaran alasan sederhana: ogah tinggal di New Heaven. Iya, kota adalah variabel penting saat memilih sekolah.

Lama betul saya googling soal kota-kota yang akan jadi tempat tinggal dua tahun ke depan. Tidak cuma lihat pendapatan per kapita, inflasi, serta fasilitas umum (transportasi umum, taman, rumah sakit) di kota tersebut, tetapi juga kehidupan sosial. Misalnya, saya langsung menolak salah satu dari empat kota tersebut lantaran Bloomberg menyebutnya sebagai "the best city to raise small family with kid", untuk orang yang tadinya tinggal di kota dengan 20 juta jiwa, penjelasan tersebut seolah berkata: kota ini membosankan kalau kamu perempuan muda yang suka main sana-sini. Banyak hal yang harus kamu pastikan dari sebuah kota, misalnya apakah dia berada di bible belt, yang artinya akan sangat konservatif, ataukah dia super hipster dan liberal. Juga pastikan apakah kota calon tempat tinggal termasuk dalam kategori food desert, kalau iya, bagaimana cara mengatasinya, apakah kamu akan memiliki kendaraan pribadi, ataukah kampusmu menyediakan kartu akses agar dapat menggunakan transportasi umum gratis. 

Rata-rata usia mahasiswa
Kampus yang saya pilih memiliki rerata usia mahasiswa 25 tahun, artinya kebanyakan mahasiswanya telah bekerja setidaknya 1 tahun sebelum kembali ke sekolah. Ini adalah usia ideal bagi saya karena berada di sekitar teman-teman yang terpaut jauh usianya bisa jadi fokus pembicaraan sangat berbeda, dan fase kehidupan juga sangat berbeda.

Fokus sekolah/ departemen/ kampus
Apakah kampus yang kamu tuju terkenal sebagai pencetak pebisnis handal, atau ahli politik? Apakah kampus tersebut 'dekat' dengan wall street, atau dekat dengan aktivisme? Penting untuk mengetahui orientasi kampus karena ini akan terkait dengan minatmu. Misalnya saja, kampus saya saat ini terkenal sangat kuat dan sebagai salah satu pelopor Keadilan Lingkungan, hal ini akan cocok bagi saya yang memiliki latar belakang aktivisme karena orientasi kampus juga akan tercermin dalam pilihan mata kuliah.

Fasilitas kampus
Selama di Jakarta, saya selalu menghabiskan waktu 2-3 jam sehari, 4-5 kali dalam seminggu untuk berolah raga. Sebab itu, fasilitas gym dan running track di kampus sangat penting. Kampus saya memiliki tiga gym, dan kelas-kelas group exercise. Selain itu kampus juga memiliki fasilitas untuk mengantar mahasiswa yang terpaksa harus pulang malam, namun khawatir terhadap keamanan. Jadi, pastikan apa minat ekstrakulikuler dan kenyamanan kamu, dan apakah kampus memfasilitasi hal tersebut.

Budaya dan keragaman 
Berapa banyak mahasiswa internasional di kampus yang kamu tuju? Seberapa terbuka penduduk lokal terhadap budaya baru? Hal ini sangat penting karena kamu akan berada di tempat yang sama sekali baru, dan memiliki teman yang seragam, tidak ramah, dan tidak toleran tidak akan membantu. Pastikan mereka memiliki keragaman yang baik, serta tidak white supermacist.

Ketahui apa yang kamu mau(!!!)
Last but not least, know what is important to you, do not compromise for what is essential for your life. Set your priority right because you will not just be a student, you will be a person, and being a person is even harder. As my provost say, you are amazing, but you are just a human. A burned out human, will not be able to do things right. Be a fully human, don't go to a place that makes you less human.


Baca juga: