Tuesday, May 17, 2016

Tame Me



“I remembered the fox. One runs the risk of crying a bit if one allows oneself to be tamed.” 
― Antoine de Saint-ExupéryThe Little Prince




"Tame Me"
soft pastel on croquis paper

True love waits


I'm not living, I'm just killing time
Your tiny hands, your crazy-kitten smile

Just don't leave
Don't leave

And true love waits
In haunted attics
And true love lives
On lollipops and crisps






PS. This version later became the version in the new album (which was released four days ago), with slight differences.

Saturday, May 7, 2016

you're making me sick, love



I can't erase it from my mind
I just replay it, love,
Think of it all of the time.

But I don't want to imagine
Words you spoke to her that night.
Naked bodies look like porcelain,
You both knew I'd be bleeding inside.

--Daughter, Love--



"you're making me sick, love"
pencil, marker, pastel on croquis paper

ooo


You planted your eyes on my feet
You told me to dig my heels deep
The night wore the rain
On her windowpane
Drifted us to sleep

Thursday, May 5, 2016

Tubuh saya tidak salah

Kekerasan seksual pertama yang saya hadapi adalah 18 tahun yang lalu, saat berusia 11 tahun, dan sedang mengenakan seragam putih-merah. Pagi hari saat berangkat sekolah, seorang laki-laki berlari mendekat, dan meremas payudara saya. Kejadian ini berulang, dan saat melapor kepada Ibu Guru, dia mengatakan: sudah, tidak usah terlalu dipikirkan.

Saya diajarkan untuk diam.

Kekerasan seksual kedua, sekitar 2 tahun kemudian. Saya baru pulang sekolah, mengenakan seragam putih-biru yang kebesaran, dan berkerudung. Seorang kernet bis kota meraba payudara saya saat saya hendak menyeberang jalan. Saya marah, tapi teman berkata: jangan bereaksi berlebihan.

Saya diminta untuk menerima.

Pada masa sekolah menengah atas dan perkuliahan, payudara sering dijadikan candaan. Kata mereka payudara saya terlalu menonjol, dan seronok. Kata mereka saya harus memakai baju yang tidak menonjolkan payudara. Kata mereka saya terlalu mengumbar dan mengundang.

Saya diajarkan bahwa kesalahan ada pada payudara.

Bertahun-tahun saya tidak menyukai si payudara. Saya benci karena dia membuat saya seperti ‘perempuan nggak bener’--meminjam istilah teman-teman. Saya benci karena payudara mengundang hal-hal yang tidak saya inginkan. Saya benci saat payudara menjadi sumber siul-siulan di pinggir jalan. Saya benci payudara saya.

Saya diajarkan untuk membenci tubuh.

Tubuh saya berubah, dari tubuh 11 tahun, 18 tahun, 23 tahun, hingga sekarang 28 tahun. Tubuh berubah, pikiran tidak. Masyarakat masih ingin saya untuk diam, menerima, dan membenci tubuh. Masyarakat tidak berubah, pikiran masyarakat tidak berubah, meski tubuh berubah menjadi tua, kering, dan peyot. Masyarakat tidak berubah, karena semuda apapun, dan sepeyot apapun, tubuh perempuan yang salah. Saya yang salah.

Tapi saya berubah, dan tubuh saya tidak salah.