Monday, January 18, 2016

Kenapa rasis terhadap bangsa sendiri?

Beberapa pekan lalu saya mendapatkan perlakuan rasis paling parah seumur hidup. Saya dan pasangan memesan makan siang di La M**mba, restoran di Gili Trawangan. Pesanan kami adalah dua salad, dua jus mangga, dan air mineral. Pada saat itu restoran tidak terlalu ramai, namun salad kami tak kunjung datang. Satu jam berlalu, dan pelanggan yang datang sesudah kami pun hampir menyelesaikan makan siangnya. Tiga kali saya bertanya kepada pelayan mengenai pesanan, mereka hanya menjawab sambil lewat: sedang dimasak.

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk pergi saja. Namun, ketika akan membayar jus mangga serta air mineral, seketika juga, salad kami siap. Itu pun sesudah pasangan (yang bukan orang Indonesia) menanyakan kembali untuk keempat kalinya. Karena kami sudah siap di kasir untuk membayar, saya menolak untuk membayar salad tersebut.

Akhirnya kasir memanggil (yang sepertinya) manajer restoran. Pada saat itu reaksi (terduga) manajer restoran terbilang mengejutkan:

"Kita kan sama-sama lokal, harusnya mbak paham lah," ujarnya.

Sungguh saya tak paham, "jadi kalau lokal, bapak boleh memberi pelayanan yang buruk?"

"Ya kan sama-sama lokal, harusnya paham lah. Tadi meja kita ini berantakan, jadi pesanan mbak, ketumpuk, dan ga ketemu, baru ketemu tadi ini," jelasnya.

"Iya pak, kalau begitu tadi tiga kali saya bertanya, kenapa bilangnya lagi dimasak? Harusnya dibilang saja belum dibuat, bukan buru-buru dibuat sesudah pacar saya yang bertanya. Memangnya beda kalau bule yang tanya?"

"Mbak kan sama-sama lokal, harusnya kita saling paham lah! Mbak harus bayar, mbak nih yah, kalau ke restoran itu, di mana-mana juga harus bayar, coba mbak sekali-sekali ke restoran," tiba tiba dia marah-marah dan mengajari saya caranya bertransaksi di restoran.

"Pak, maksudnya gimana? Salah saya kalau meja bapak berantakan, lalu saya harus bayar makanan yang tidak pernah saya terima?" saya kembali bertanya karena logikanya tak masuk akal.

"Ya kalo mbak sudah nggak mau makanannya gapapa, nanti saya kasih aja ke anak-anak (para pekerja di restoran tersebut) tapi tetap harus bayar! BEGINI DEH KALAU BERURUSAN SAMA LOKAL, SUDAH PAHAM SAYA. SOK. YANG PENTING BAYAR AJA DULU, MBAK?!!" lalu dia membentak-bentak saya.

Pada akhirnya saya beri juga uang, "Pak, kalau cuma mau uang, ini pak, tapi ga perlu rasis begitu, membeda-bedakan bule dan lokal, emang bapak orang mana?" ujar saya kesal sambil berlalu menuju parkir sepeda.

Sesampainya di hotel saya menangis sesenggukan. Sedih sekali rasanya diperlakukan begitu oleh sesama orang Indonesia. Tak cuma sakit hati, tapi juga kebanggaan sebagai orang Indonesia, yang katanya baik dan ramah, runtuh seketika. Ternyata kita hanya baik dan ramah kepada orang asing yang diuntungkan oleh harga kurs mata uang.

Sebetulnya, saya sudah mengantisipasi diperlakukan rasis setiap kali ke wilayah Bali ataupun Gili. Di Bali misalnya, keberadaan saya adalah tidak signifikan di mata para pedagang. Mereka akan berusaha sekuat tenaga menawarkan ini-itu kepada pasangan, tanpa menoleh sekalipun meski saya bertanya. Mereka baru peduli ketika menyadari bahwa saya bisa mengambil keputusan sendiri, dan bertransaksi  tanpa campur tangan pasangan.

Dahulu, saya menganggap biasa saja jika diperlakukan rasis di Bali. Saya pikir, sudahlah, mungkin mereka kira pelancong lokal tidak punya uang sebanyak para pelancong kulit putih. Namun setelah kejadian di Gili Trawangan, saya jadi lebih sadar atas perlakuan rasis. Apalagi sepanjang ingatan, perlakukan begitu belum pernah terjadi selama bepergian ke negara Asia Tenggara lain yang mirip-mirip juga dengan Indoensia, misalnya Thailand, Myanmar, atau Philipina (meskipun mereka selalu menyangka saya adalah penduduk lokal).

Thailand juga negara yang sangat men-stereotype perempuan berkulit cokelat yang berkeluyuran dengan orang kulit putih (biasanya saya akan dianggap berasal dari provinsi di Thailand, dan dianggap arogan karena tidak mau berbahasa Thailand). Namun demikian mereka tetap selalu berusaha berbicara dengan saya terlebih dahulu, dengan menggunakan bahasa lokal. Belum pernah saya diperlakukan dengan berbeda karena warna kulit dan ras. Bahkan saat ingin makan malam di depan kantor di Bangkok, penjual jajanan pinggir jalan dengan sangat ramah menyapa dengan bahasa Thailand.

Begitu juga dengan Myanmar. Di Myanmar saya sering dianggap lokal, dan diperlakukan dengan sangat baik. Mereka berusaha mengobrol dan berbicara dalam bahasa lokal terlebih dahulu, baru kemudian berpaling kepada pasangan. Bahkan saking mereka menghargai bahasa dan bangsanya sendiri, beberapa pengemudi taksi sempat kesal karena saya dianggap enggan berbahasa Myanmar, padahal berwajah Myanmar. Keramahan orang Myanmar memang bervariasi jika dibandingkan berdasar kota besar dan kota kecil di provinsi. Namun, saya belum pernah diperlakukan rasis seperti yang sering saya terima di negara sendiri.

Kejadian tersebut, pada akhirnya mengingatkan pada perlakukan rasis kecil-kecil dalam kehidupan sehari-hari, bahkan tak jarang dari teman sendiri. Misalnya saja, yang paling sering saya dengar sejak masih di universitas: "kamu mukanya muka pembantu sih, sukaan-nya bule." Sakit hati? Tidak, saya sudah kebal.

Hanya saja, kenapa sih kita harus rasis kepada bangsa sendiri? Kapan bisa jadi bangsa besar kalau begitu bertemu dengan kurs yang lebih tinggi sedikit saja langsung berubah jadi cecunguk yang meremehkan teman dari bangsa sendiri?

Friday, January 15, 2016

when terror is unfruitful

Most people who live in Jakarta usually have a pretty strong love-hate relations with this cruel yet lovely city. Jakarta is a rough city which will easily bring people down, thus one should be brave and strong enough to be able to nail the rhythm and finally understand the brighter side of Jakarta.

Maybe that is one of the reason why the terrorists are failed to bully Jakartans with their explosions and gunfire, because Jakartans are strong, thus not easily bullied. We are sad and send deepest condolences to all the victims, but we defied the terror, we refuse to be dictated by fear.

On the other hand, Indonesians are the most easily distracted people from across the globe, well explained by this post:



Translation:

Only In Indonesia
When the terror was failed
Here is summary of today's terror

10.00 - BOMB IN SARINAH
11.00 - GUN FIRE, 3 VICTIMS
12.00 - EXPLOSION IN PALMERAH
13.00 - CIKINI KUNINGAN SLIPI (name of the 3 different area which was told be bombed)
14.00 - #PRAYFORJAKARTA
15.00 - TERRORIST GET CAUGHT
15.15 - #KAMITIDAKTAKUT (we are not afraid)
16.00 - SATE IS STILL BEING SOLD
16.30 - 7 TERRORISTS REVEALED
17.00 - POLICE OFFICER WEAR GUCCI
18.00 - MACHO POLICE OFFICER
19.00 - POLICE #KAMINAKSIR (we have crush)
20.00 - RIP Prof Snape :(
20.15 - THE POLICE OFFICER IS KHRISNA, STALKING
20.30 - THE POLICE OFFICER IS ACTUALLY RINO
20.40 - RINO #KAMINAKSIR (we have crush)
21.00 - RINO IS NOT POLICE OFFICER BUT, STILL, #KAMINAKSIR (we have crush)
21.15 - WHO IS THE CUTE POLICE OFFICER? STALK MORE


Here are more reasons why terror was unsuccessful to bring Jakarta down:

1. People are more focus to the hero. There are stories about a guy who tried to help to rescue the hostage, or a motorbike taxi driver who rescued a girl during gun shoot. People do not care about the story about terrorism, as we have enough already.
The online-based motorbike driver rescued a passerby from the battle ground.
His name is Yunus. He is our hero.

2. Soon after the casualty took place, people share defiant message #KamiTidakTakut (we are not afraid) and more positive messages such #JakartaBerani (Jakarta is brave) and #IndonesiaUnited.





3. Rapid response from transportation application. Two big online based transportation vendor in Indonesia offered free rides to help people stay away from affected area.

4. Curiosity doesnot always kill the cat. People chose to bear witness the casualty in Sarinah rather than stay away.

On the background people carefully watched the street war as if it was an action movie

Selfie!

5. Street vendor did business as usual.

He was reported being only 100 m(!) away yet calmly sold his satay
#KeepCalmandEatYourSatay

Transaction took place right across the grenade explosion area

6. Facebook safety check nowhere to be seen, but nobody made big fuss about it. People don't care. Despite being one of the biggest Facebook user, Indonesians are bigger than Facebook.

7. Girls are distracted by cute police officer who were on duty during the casualty. Later (up to earlier today) the hashtag of #KamiNaksir (we have a crush) became trending topic. Yes, we might be a patriarchal society but we also objectify man.





8. Business opportunity! Some online shops started to open order for Gucci sneakers and sling bag claimed as the same product wore by the cute police officer.

9. Internet is fast enough in distributing meme to mock the terrorist. Our heart breaks, but using humor, people recover quicker.



When we laugh at tragedies, we alleviate the tension associated with sudden destruction, we negotiate its absurdity, we ease the emotional chaos and we tame the taboo of death. In case of attacks, we often ridicule the perpetrators to defeat the fear and shock of the event. Experts say that humour after tragedy has four phases. First the morbid humour appears, and while it is often inappropriate, it helps us to process the tragic event. Then people experience distractive humour – supposed to draw our attention from the tragedy and reassure us that everything will be OK. Next comes power humour, which works by ridiculing our enemy and calling for revenge thus making us feel stronger and more powerful. Through identifying the villain or the problem, it rationalizes the tragedy. Finally, connective humour expands  the perspectives taken into account and even begins to incorporate compassionate attitudes.

10. Last but not least, it's all because...


Monday, January 11, 2016

Bagan, negeri seribu candi

Salah satu tempat yang harus dikunjungi ketika berada di Myanmar adalah Bagan, tempat lahirnya ribuan candi sejak abad ke-sembilan. Dulunya Bagan adalah Ibu kota Kerajaan Pagan, yang menyatukan seluruh wilayah Myanmar, dan peletak dasar konstitusi Myanmar (dulu Burma) modern.

Berbeda dengan Prambanan yang ratusan candinya terletak berdekatan, candi-candi di Bagan terletak berjauhan, agak sporadis, dan tidak seragam. Karena letaknya berjauhan dan amat banyak, tidak disarankan untuk mengunjungi keseluruhan candi satu per satu. Selain karena banyak candi yang mirip satu-sama lain, juga karena banyak candi yang dikunci. Alasan lain adalah karena beberapa candi juga tidak istimewa-istimewa amat, sebagian hanya dibuat untuk pemimpin atau orang kaya terdahulu.

Saran saya, datangi candi-candi besar di sana, daftar candi besar yang istimewa sangat mudah ditemui di internet, misalnya Candi Ananda, lalu berkunjung ke dua-atau tiga candi kuno kecil-kecil. Bagus kalau candi tersebut bisa dinaiki hingga ke atap, karena pemandangan Bagan dari atas candi sangatlah indah, terutama saat matahari tenggelam. Rasanya merinding melihat keindahan begini.

Saya berkunjung ke Bagan pada Mei 2015, bukan waktu yang disarankan untuk berkunjung. Pada pertengahan tahun, suhu di Bagan sedang panas-panasnya. Saat di Bagan saya hanya keluar pada pagi hari, dan pulang ke hotel pukul 11 pagi, baru kemudian keluar lagi sekitar pukul 4 sore lantaran udara yang sangat panas.

Alasan lain untuk tidak berkunjung ke bagan pada Mei adalah karena balon udara sedang tidak beroperasi pada bulan ini. Iya, di Bagan kita bisa mengambil tur menaiki balon udara yang buka sekitar akhir tahun, dan tutup pada April karena alasan cuaca. Tur menggunakan balon udara ini terbilang mahal, sekitar US$350 pada Mei 2015. Apalagi tiket pergi pulang ke Bagan dari Yangon juga tidak murah, sekitar US$200 untuk penerbangan selama 45 menit ini (di Myanmar banyak layanan dihargai dengan dolar Amerika, bahkan menu di restauran juga menggunakan dolar Amerika, walaupun kita bisa bayar dengan Kyatt, baca: chat).

Pesawat yang digunakan untuk penerbangan Yangon-Bagan adalah pesawat kecil dengan baling-baling, semacam kapal bombardir. Menuju Bagan dari Yangon, pesawat akan transit di Mandalay. proses transit ini agak lucu karena penumpang diminta menunggu di pesawat sambil menanti penumpang dari Mandalay menaiki pesawat. Selama proses transit, kita juga boleh keluar dari pesawat untuk meluruskan badan. Seperti naik bus rasanya.

Bagi saya, Bagan ini bagaikan versi panas dari Magelang, kota kecil yang sederhana, tapi cantik, dan penduduknya begitu ramah. Bagan juga sudah ramah turisme, penduduk lokal mungkin tak banyak yang bisa berbahasa Inggris, namun kami tidak menemukan kesulitan saat harus bertransaksi, baik di rumah makan, hotel, mapun pertokoan. Hanya saja, kita harus terbiasa dengan logat Myanmar yang kental saat mereka berbahasa Inggris. Perlu waktu bagi saya untuk memahmi Bahasa Inggris a la Myanmar ini.

Untuk pilihan makanan, karena sudah ramah turisme, ada banyak restoran yang sudah menyediakan menu barat, ataupun menu Asia Tenggara. Toko-toko souvenir juga bertebaran di sepanjang jalan.  Saat berada di Bagan, transportasi yang bisa digunakan adalah sewa sepeda listrik, sepeda motor (di Bagan sepeda motor tidak dilarang), atau sepeda kayuh, sekitar 5000 Kyatt per setengah hari. Sementara harga hotel sekitar US$35 per malam, untuk hotel yang mungkin setara dengan hotel melati.

Saat berada di bagan, sebaiknya beranikan diri untuk blusukan. Saat mencari tempat untuk menonton matahari tenggelam, kami hampir menyerah karena tak menemukan candi yang dibuka ataupun yang bisa dinaiki atapnya. Namun akhirnya kami menemukan jalan menelusuri sungai, dan melihat matahari tenggelam dari bukit kecil yang tercipta dari reruntuhan bangunan. Salah satu pemandangan matahari tenggelam paling indah yang pernah saya lihat!

Oya, menaiki atap candi bukanlah perbuatan vandal, kami menghormati peninggalan budaya berusia ratusan tahun ini, tentu kami tak ingin merusak. Beberapa candi memang didesain untuk bisa dinaiki hingga ke atap. Sebab itu harus memilih baik-baik candi mana yang mau dikunjungi dan apa tujuannya. Ratusan candi di bagan banyak yangs udah tidak digunakan, meski demikian, sangat disarankan untuk membuka alas kaki meskipun candi tersebut sudah tidak digunakan untuk berdoa.

Atap candi yang gelap dan lembab biasnaya dihuni oleh koloni kelewar, selain itu untuk candi candi yang tak lagi digunakan, terkadang kita akan menemukan penjual atau pelukis pasir. Lukisan pasir di atas kanvas merupakan salah satu oleh-oleh khas Bagan.

Selain ribuan candi kecil dan banyak candi-candi yang lebih besar (daftar candi di Bagan bisa dilihat di wikipedia), ada satu candi yang masih aktif digunakan untuk berdoa. Seperti Bororbudr, candi berwarna putih ini dikelilingi oleh banyak penjual, meskipun tidak sebanyak di Borobudur. Manurut saya, bolehlah luangkan waktu sebentar untuk melongok apa yang mereka jual, karena banyak sekali barang unik dengan harga murah yang bisa ditemukan di sini.

Beberapa situs yang berguna kalau ingin mengunjungi Bagan:

https://en.wikipedia.org/wiki/Bagan
http://www.baganmyanmar.com/
http://www.orientalballooning.com/
http://www.airbagan.com/

(maaf yah, foto jepretan kamera handphone di bawah ini sama sekali tidak berhasil mewakili keindahan Bagan, sila googling saja untuk gambar-gambar cakep Bagan :D)





Wednesday, December 23, 2015

Kenapa kamu harus berkunjung ke Myanmar?

Tahun ini saya dua kali ke Myanmar, pertama kali adalah pada Mei, dan Desember (saya masih di Myanmar saat memposting ini). Keduanya merupakan waktu yang asik buat berkunjung. Pada Mei Myanmar sudah mengakhiri musim panas, dan mulai masuk musim penghujan. Musim panas/ kering di Myanmar bisa sangat panas, maka berkunjung di penghujung musim panas dan menuju musim hujan lebih menyenangkan. Sementara pada awal Desember, musim hujan sudah berakhir, namun cuaca belum terlalu panas.

Pertama kali menginjakan kaki di Yangon, saya berpikir: wah, kota ini seperti Jakarta tahun 80an di film Dono (well, karena lahir pada penghujung 80an, saya tak punya memori bagaimana Jakarta pada masa itu). Penduduknya, baik laki-laki maupun perempuan, di kota besar atau provinsi, masih menggunakan Lonji, semacam kain sarung, memakai bedak dingin di pipi, dan menyirih di sana-sini. Gedung pencakar langit belum banyak, sepeda masih mudah dijumpai, merpati memenuhi sudut-sudut kota--bertengger di kabel apa saja atau di jalanan, dan pembangunan ada di mana-mana. Dalam jarak 7 bulan saja, Yangon sudah berubah, pada kunjungan kedua, kota kecil ini sedang sibuk membangun jembatan layang, macet makin merajalela. Prediksi saya, dalam beberapa tahun mereka akan jadi jauh lebih modern, saat ini saja sudah ada beberapa daerah seperti Bangkok kecil. Bedanya dengan Jakarta dan Bangkok, di Yangon sepeda motor dilarang. Sebab itu tak ada opsi naik ojek untuk menghindari macet.

Meski ibu kota negara pindah ke Napitaw, Yangon tetap menjadi kota dengan penduduk terbanyak, dan pusat ekonomi. Kalau berjalan-jalan di Yangon, akan banyak ditemui gedung-gedung bekas kementerian. Sebagian kosong, sebagian lagi dialihfungsikan. Napitaw adalah kota bentukan pemerintah militer pada 90an. Melalui literatur yang saya baca saat kuliah, pemerintah militer pada saat itu diam-diam membangun kota baru dan pelan-pelan memindahkan ibu kota agar gelombang perubahan tak mudah menerpa pemerintahan.

Meski pemerintah militer masih berjaya, menurut saya tak perlu takut menjadi turis di Myanmar. Justru sebaliknya, mendatangi negara yang sedang dalam gelombang perubahan justru membuat kunjungan menjadi lebih menarik. Dari sisi sosial-politik, Myanmar juga sedang bebenah. November lalu mereka baru mengadakan Pemilu pertamanya sejak Pemilu tahun 90an, yang dimenangkan NLD. Pemilu kali ini NLD kembali berjaya, namun belum ada yang tahu apa yang akan terjadi sesudah ini, apakah pemerintahan militer akan melunak, atau tetap jalan terus.

Contoh lain yang begitu nyata dari perkembangan Myanmar, selain pembangunan gedung dan jalan, adalah akses internet yang semakin baik. Seorang teman berkunjung ke Myanmar pada 2014 bercerita kalau harga SIM Card pada saat itu masih mencapai ratusan ribu hingga jutaan kalau dirupiahkan. Seperti di Indonesia pada akhir tahun 1990an. Namun saat saya berkunjung, SIM Card sudah jauh lebih terjangkau, baik dari segi harga, maupun akses untuk membeli. Meski demikian, jangan berharap internet Myanmar sudah seperti negara Asia Tenggara lainnya. Internet Myanmar adalah yang paling kacrut. Bahkan saat saya di Raja Ampat saja, internet masih jauh lebih bagus dari pada di pusat kota Yangon. Jadi, bersiap-siap untuk tidak terlalu sering posting foto keren dulu di Instagram.

Oya, tentu Myanmar bukan cuma Yangon. Seperti Indonesia yang memiliki keindahan alam berbeda di tiap provinsi, keindahan alam di pelosok pelosok Myanmar tak kalah dengan negara Asia Tenggara lainnya, ribuan candi di Bagan, pengunungan karst di Hpa An, atau pantai-pantai pasir putir yang tenang.

Tak cuma alamnya yang luar biasa, penduduk Myanmar yang saya temui juga ramah betul. Beberapa dari mereka memang suka menatap saya dengan penuh curiga, dikira saya adalah penududuk lokal yang arogan dan tak mau berbahasa Burma karena main-main dengan kelompok anak kulit putih. Bahkan sekali waktu supir taksi pernah melengos begitu saja saat teman (yang kauskasoid) menawar taksi sementara saya diam saja di belakang. Si supir taksi menatap saya dengan tajam sebelum tancap gas. Namun pada kali lain seorang ibu yang sedang bersepeda, turun dari sepedanya dan mengejar kami, hanya untuk bilang: you are so beautiful, kepada saya. Keramahan yang tak diduga-duga.

Hal lain yang membuat kunjungan ke Myanmar menjadi lebih menarik adalah, pemegang paspor Indonesia dibebaskan visa untuk berkunjung ke Myanmar. Meski bagian dari ASEAN, namun tidak semua negara di Asia Tenggara memiliki kerja sama serupa dengan Myanmar, Thailand yang bertetangga dekat saja harus memiliki visa untuk berkunjung ke sana. Pemegang paspor Indonesia bebas visa selama 14 hari kunjungan di Myanmar. Namun Myanmar agak lebih rewel dibanding negara Asia Tenggara lainnya. Sebaiknya cantumkan alamat hotel dengan lengkap di arrival card. Bahkan, saya dengar-dengar, kalaupun nantinya akan menginap di rumah teman, cantumkan saja alamat hotel apapun yang bisa ditemukan di internet, pemerintah tidak terlalu suka turis yang tidak menginap di hotel.

Selain visa yang gratis, tiket ke Myanmar juga tak semahal yang dibayangkan. maskapai merah yang murah meriah memiliki tarif terendah hingga Rp1,2 juta untuk satu kali perjalanan. Atau kalau rajin-rajin mengecek tarif, mungkin bisa mendapatkan harga yang jauh lebih murah.

Tentu saja saya tidak mendapatkan apa-apa dari pemerintah Myanmar untuk mempromosikan negaranya. Hanya merasa negara selucu ini (iya, Myanmar ini, kalau anak manusia, mungkin sedang lucu-lucunya) harus dikunjungi sebelum Yangon berubah menjadi Jakarta atau Bangkok lainnya. Selalu ada yang menakjubkan dari Myanmar!

Misalnya... Mixagrip yang ada di mana-mana, dan kaleng Khong Guan yang featuring anak bule nyasar ;)





(Cerita lebih lengkap soal tempat-tempat yang bisa dikunjungi di Myanmar, serta tips dan trik akan coba diceritakan pada posting-posting selanjutnya)

Sunday, December 6, 2015

Happy International Day for the Elimination of Violence against Women!




Two Birds
Soft pastel on paper

  © Blogger templates Brooklyn by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP