Thursday, May 5, 2016

Tubuh saya tidak salah

Kekerasan seksual pertama yang saya hadapi adalah 18 tahun yang lalu, saat berusia 11 tahun, dan sedang mengenakan seragam putih-merah. Pagi hari saat berangkat sekolah, seorang laki-laki berlari mendekat, dan meremas payudara saya. Kejadian ini berulang, dan saat melapor kepada Ibu Guru, dia mengatakan: sudah, tidak usah terlalu dipikirkan.

Saya diajarkan untuk diam.

Kekerasan seksual kedua, sekitar 2 tahun kemudian. Saya baru pulang sekolah, mengenakan seragam putih-biru yang kebesaran, dan berkerudung. Seorang kernet bis kota meraba payudara saya saat saya hendak menyeberang jalan. Saya marah, tapi teman berkata: jangan bereaksi berlebihan.

Saya diminta untuk menerima.

Pada masa sekolah menengah atas dan perkuliahan, payudara sering dijadikan candaan. Kata mereka payudara saya terlalu menonjol, dan seronok. Kata mereka saya harus memakai baju yang tidak menonjolkan payudara. Kata mereka saya terlalu mengumbar dan mengundang.

Saya diajarkan bahwa kesalahan ada pada payudara.

Bertahun-tahun saya tidak menyukai si payudara. Saya benci karena dia membuat saya seperti ‘perempuan nggak bener’--meminjam istilah teman-teman. Saya benci karena payudara mengundang hal-hal yang tidak saya inginkan. Saya benci saat payudara menjadi sumber siul-siulan di pinggir jalan. Saya benci payudara saya.

Saya diajarkan untuk membenci tubuh.

Tubuh saya berubah, dari tubuh 11 tahun, 18 tahun, 23 tahun, hingga sekarang 28 tahun. Tubuh berubah, pikiran tidak. Masyarakat masih ingin saya untuk diam, menerima, dan membenci tubuh. Masyarakat tidak berubah, pikiran masyarakat tidak berubah, meski tubuh berubah menjadi tua, kering, dan peyot. Masyarakat tidak berubah, karena semuda apapun, dan sepeyot apapun, tubuh perempuan yang salah. Saya yang salah.

Tapi saya berubah, dan tubuh saya tidak salah.

Thursday, April 28, 2016

Tuesday, April 19, 2016

menyoal warna dan bau vagina

Senja di Jakarta adalah salah satu waktu yang paling menyenangkan untuk lari-lari lucu di jogging track. Namun, lari pada sore itu membuat saya kesal, lantaran di kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara spanduk sok tahu yang mengatakan bahwa vagina harusnya berwarna cerah, dan harum semerbak. Vagina seharusnya tidak hitam, dan wangi bunga-bunga, atau herbal.

Bahkan di wilayah paling privat saja perempuan dijajah, diberi tahu seharusnya bagaimana seolah-olah perempuan tak mengenal vaginanya sendiri. Bahkan di wilayah privat, kapitalisme masih berusaha membodoh-bodohi perempuan. Kesal sampai ke ubun-ubun!

Bahwa vagina harus harum semerbak saja sudah patron yang salah. VAGINA TIDAK SEHARUSNYA HARUM. Tidak semua bau vagina adalah bau yang sehat, tetapi juga tidak ada vagina yang memiliki wangi bunga lili putih atau berbau sereh seperti banyak disarankan iklan pembesih vagina. Sekali lagi, vagina memiliki bau khas, dan memang tidak seharusnya harum. Pada vagina terdapat 2.100 molekul bau, sebab itu vagina adalah campuran dari banyak bau pada molekul tersebut.

Selain molekul bau, metabolisme dan makanan juga mempengaruhi bau vagina, juga bakteria. Seperti mulut dan perut, vagina adalah rumah dari jutaan bakteria. Bakteria 'baik' ini bersifat asam dan berfungsi mengatur pH pada kadar 4,5. Sebab itu, adalah normal apabila kita bisa mencium bau vagina hingga jarak kurang-lebih 30 CM. Bau vagina akan menguat saat datang bulan. Bau ini bisa bervariasi, tergantung keadaan hormon pada siklus bulanan. Bau vagina juga berbeda untuk tiap orang, sebagian memiliki bau yang kuat, sebagian lain memiliki bau yang lebih subtil. Berkeringat dan hubungan seksual juga dapoat mempengaruhi bau vagina. 

Namun ingat, tidak semua bau vagina adalah bau yang sehat. Kenali bau sehat dan tidak sehat dari vagina.

Kebodohan lain dari kapitalisme adalah bahwa vagina harus berwarna cerah. Ini sama bodohnya atau lebih bodoh dari banyak iklan pemutih kulit di Filipina, Thailand, Indonesia, Myanmar, dan negara Asia Tenggara lainnya. Melanggengkan postcolonialism hungover sembari meraih laba sebanyak-banyaknya. VAGINA TIDAK HARUS BERWARNA CERAH. Adalah normal bagi mereka yang berkulit putih (seperti ras Kaukasoid) jika memiliki vagina berwarna kecokelatan atau keunguan, lalu bagaimana ceritanya yang ras berkulit cokelat (seperti orang Indonesia) ingin vagina yang berwarna putih? Pakai cat akrilik mungkin?

Vagina tidak hanya memiliki satu bagian, setiap bagian memiliki fungsi yang berbeda dan warna yang berbeda. Bukan hal yang salah kalau vagina tidak berwarna cerah dan memiliki corak warna berbeda (menggelap, atau menerang) pada bagian berbeda. Misalnya saja labia bisa jadi berwarna lebih gelap, sementara perineum berwarna lebih cerah.

Sebab itu, ingat, jika kapitalis patriarki menyuruh kamu untuk memiliki vagina berwarna cerah dengan wangi bunga-bungaan, ask them to go f*** themselves!

Monday, April 18, 2016

Lima cara menghindari perkosaan

5 cara menghindari perkosaan:

1.     Jika seseorang mabuk, jangan perkosa dia.
2.     Jika seseorang jalan sendirian di malam hari, jangan ganggu dia.
3.     Jika sulit menghindari perkosaan, minta kawan anda menemani dan mengingatkan setiap waktu agar tidak memperkosa.
4.     Bawa peluit. Di luar negeri peluit banyak digunakan untuk menghentikan perkosaan. Jika anda menyadari anda ingin memperkosa seseorang, tiup peluit kencang-kencang sampai seseorang datang untuk menghentikan anda.
5.     Ingat, kejujuran adalah yang terbaik. Jangan mengajak kencan seseorang jika anda sebenarnya ingin memperkosa dia. Katakan sejak awal jika anda ingin memperkosa. Jika anda tidak berkata jujur sejak awal, teman kencan tidak akan memahami maksud anda untuk memperkosa.

(lima cara ini ditranslasi dari Jakarta Feminist Discussion Group

Ketika kasus perkosaan terjadi, sering kali korban (terutama perempuan) menjadi pihak yang disalahkan. Pakaiannya, sikapnya, apa yang dia konsumsi caranya berjalan, pukul berapa dia beraktivitas, perempuan tidak akan pernah memenangkan pertarungan ini karena apapun yang dia lakukan selalu ada cara untuk menyalahkan. Perkosaan dalam rumah tangga, atau dalam pacaran? Sudah tentu perempuan disalahkan, bahkan masyarakat akan menganggap hal tersebut mau sama mau (semoga kamu tidak perlu diperkosa dulu untuk bisa tahu bahwa  tidak ada perkosaan mau sama mau).

Banyak sekali kasus perkosaan yang memenangkan laki-laki yang kalah pada nafsu dan titit mereka sendiri. Jika perkosaan terjadi maka itu bukan salah laki-laki kalau nafsunya tak terkendali. Perkosaan terjadi karena perempuan pakai rok terlalu pendek, minum alkohol hingga mabuk, berperilaku mengundang, atau keluar malam. Seolah-olah wajar saja kalau laki-laki tidak punya kontol, eh maksud saya kontrol, terhadap nafsunya sendiri.

Sejak kecil saya diajarkan untuk tidak pakai rok terlalu pendek, tidak keluar malam, tidak berduaan dengan lawan jenis, jangan terlalu bebas bergaul, tapi apa anak laki-laki juga diajarkan hal yang sama? Misalnya: jangan menyingkap rok anak perempuan (atau mengintip isi rok), jangan pegang-pegang tubuh anak perempuan, jangan memaksa, dan lain-lain. Namun yang saya rasakan saat tumbuh adalah anak laki-laki akan mengintip anak perempuan menggunakan cermin pada sepatunya, dan mereka tidak malu-malu merayakan perilaku itu dan guru-guru cuma tertawa-tawa lucu. Sikap ini adalah bibit-bibit untuk melanggengkan mentalitas pemerkosa.

Perkosaan merendahkan derajat semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Kita semua harus aktif menolak, menghindari, dan mengatasi kasus perkosaan.


Baca Juga:

Sunday, April 17, 2016

semua yang tidak feminis adalah seksis

“Ini baru mau pulang atau mau pergi,” gumam seorang bapak dengan muka nyinyir sembari menatap saya saat melintas di sebelahnya. Dia memastikan betul agar gumaman tersebut cukup keras agar terdengar.

Saat itu Sabtu pukul 7 pagi, saya tidak punya waktu untuk meladeni ketidaksopanan dan nyinyiran seksis semacam itu. Saya paham betul di lingkungan tempat tinggal, perempuan pulang malam (apalagi pagi) akan dicap perempuan nakal, atau minimal perempuan nggak bener. Meski saat itu saya sesungguhnya baru keluar rumah menuju Bogor, tak sekalipun merasa perlu menanggapi si bapak.

Di kereta menuju Bogor, saya berpikir, apabila saya adalah anak laki-laki, apakah si bapak akan melakukan yang sama? Lalu pertanyaan tersebut meluas.

Kalau saya laki-laki, apakah tukang ojek pangkalan akan tersu menerus memanggil-manggil dan menawarkan ojek dengan agresif?

·       Kalau saya laki-laki apakah para pemuda nongkrong akan bersiul-siul ketika saya lewat?

·       Kalau saya laki-laki, apakah saya masih akan ditanya “diambil di mana sama dia?” setiap kali saya ke Bali atau Gili bersama pacar yang bukan orang Indonesia?

·       Kalau saya laki-laki apakah rekan kerja masih akan bertanya kepada saya “itu menurut kamu atau menurut wartawan” saat saya memberikan analisa terhadap suatu rencana?

·       Kalau saya laki-laki apakah orang masih akan bilang: ngapain sih cari sekolah jauh-jauh ke Amerika?

·       Kalau saya laki-laki apakah orang masih akan bilang: jangan terlalu mengejar karir?

·       Kalau para Ibu-ibu Kendeng adalah laki-laki, apakah Dian Sastro masih akan menyuruh mereka mengurusi hal hal domestik?

Saya kira ini adalah cara paling mudah menetukan apakah sikap seseorang terhadap kamu seksis/ misoginis atau tidak. Kalau mereka hanya melakukan hal tersebut kepada perempuan, bisa jadi hal tersebut seksis.

Sebab itu sebenarnya kita tidak perlu label feminis, karena sesungguhnya yang dilabel sebagai feminis ini cuma hal-hal manusiawi, cuma memanusiakan perempuan. Apalagi label lebih sering digunakan untuk hal-hal buruk. Maka yang kita perlukan adalah label seksis, semua yang tidak feminis adalah seksis. Semua yang tidak memanusiakan perempuan adalah seksis.

Misalnya saja, perempuan yang menolong para perempuan korban pemerkosaan, para perempuan yang memberdayakan perempuan korban kekerasan rumah tangga dan kekerasan dalam pacaran, perempuan yang mendirikan sekolah bagi perempuan karena di daerahnya perempuan lebih banyak dinikahkan saat baru berumur 12, yang mereka lakukan adalah menolong manusia lain yang diperlakukan tidak adil. Sebab itu tidak adil kalau mereka dilabel feminis, sementara para pelaku tidak disebut seksis.

Jangan salah, tentu saya tidak anti feminisme, juga tidak alergi terhadap kata tersebut. Saya hanya ingin menekankan bahwa yang dilakukan para feminis adalah hal-hal normal memanusiakan manusia lain. Menjadi tidak normal karena kita berada di dalam lingkungan yang sangat patriarki dan memperlakukan perempuan solah-olah kelas dua.

Sebab itu, semua yang tidak feminis adalah seksis, atau bahkan misoginis.