Posts

Mengapa Perppu Pembubaran Ormas tidak perlu

Akhir 2014 lalu, banyak organisasi masyarakat, termasuk Muhammadiyah, menggugat keberadaan UU Ormas. Gugatan tersebut dikabulkan sebagian, sebagaimana dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva, katanya negara tidak boleh membelenggu kebebasan masyarakat dalam mengatur urusan organisasinya yang menjadi wilayah otonomi masyarakat.

Hampir tiga tahun berlalu, ternyata pemerintah belum puas juga. Pekan ini Jokowi baru saja menandatangani Perppu No 2/ 2017, atau yang dikenal dengan Perppu pembubaran Ormas. Perppu ini muncul menggantikan UU No 17/ 2013 yang kalah dalam gugatan tersebut. Padahal, dari pada ditambal sulam menjadi Perppu (setelah sebelumnya ditambal-sulam berulang kali), UU Ormas ini baiknya dihapus saja, karena isinya tumpang tindih dengan banyak peraturan lain.
Koalisi Kebebasan Berserikat (KKB) yang juga menang dalam gugatan Judicial Review terhadap UU Ormas pernah melakukan analisa terhadap UU tersebut dan menemukan bahwa: 6 pasal sudah diatur dalam UU tindak pidana terorisme dan pe…

wartawan pria kulit putih dan perempuan kulit berwarna

Pada akhir musim semi (atau mungkin awal musim panas) tahun ini, saya mengikuti liputan investigasi seorang wartawan penerima Pulitzer. Seorang kulit putih, tinggi besar, berusia matang, berkewarganegaraan Amerika. Tak hanya buku, bahkan katanya karya tulisnya pernah juga difilmkan.

Perjalananan selama seminggu di kapal patroli pulau-pulau terluar milik kementerian, lalu di kapal nelayan sewaan untuk menginvestigasi kapal karam dari Perang Dunia Kedua, berjalan terbilang lancar. Saya yakin, salah satu yang membuat lancar adalah karena si wartawan ciamik penerima Pulitzer ini adalah kulit putih, dan pria. Kalau dia perempuan, akan lain cerita.

Misalnya saja, saat dia memberi perintah yang sangat detil kepada beberapa orang yang dia hire untuk membantu proses wawancara puluhan mantan pelaut. Karena dia adalah laki-laki, putih pula, orang melihatnya: dia sigap, tegas, dan pemimpin. Sementara saat perempuan melakukan hal yang sama, orang akan berkata: dia bossy, tukang nyuruh-nyuruh, dan…

Teman Perempuan

Saya tumbuh besar tanpa punya teman dekat karena domisili selalu berpindah-pindah setiap 5 tahun. Saya tidak pernah punya teman yang, misalnya, sudah 20 tahun berteman baik. Yah, paling-paling saya cuma punya satu teman yang saya kenal sejak TK kecil, itu pun tak terlalu dekat, dan teman yang saya kenal sejak kelas 6 SD. Namun, tak satupun yang dekat-dekat amat sampai saya bisa ceritakan urusan percintaan, atau karir ke mereka.

Saya tak pernah memikirkan urusan pertemanan ini sebelumnya, sampai pekan lalu ketika sahabatnya Giles berkunjung dan membicarakan soal best man. Katanya, dia kecewa kami tak melakukan upacara pernikahan, karena dia ingin sekali berpidato di pernikahan Giles. Lalu saya pikir, siapa yang kira-kira akan saya pilih untuk berpidato kalau kami memutuskan untuk mengadakan acara pernikahan?

Ketika saya bilang saya tak memikirkan urusan pertemanan, bukan berarti saya pikir teman itu tidak penting. Sebelumnya, saya hanya tak pandai saja menjaga hubungan pertemanan jarak…

Seminggu tanpa sabun dan sampo

Hari ini menandai tepat seminggu percobaan mandi tanpa sabun dan keramas tanpa sampo. Awalnya saya pikir ide ini biasa saja. Toh manusia sebelum kenal sampo dan sabun juga hanya mandi dengan air mengalir. Apalagi, sudah banyak juga ornag lain melakukan percobaan yang sama. Namun, ketika saya bercerita kepada teman kantor bahwa sudah hampir seminggu saya tidak menggunakan sabun, reaksi mereka sungguh mengagetkan. Menurut mereka, ini adalah percobaan yang aneh. Sebab itu, saya jadi ingin membagikan pengalaman ini.

Kenapa awalnya saya terpikir untuk melakukan percobaan ini?

Karena kulit saya sangat sensitif. Kulit wajah sih biasa saja. Tapi kulit tubuh sangat sensitif terhadap sabun mandi. Sabun biasa membuat kulit sangat kering, rasanya seperti retak-retak, dan kadang terasa panas karena iritasi. Sebab itu saya hanya dapat menggunakan sabun mandi merek tertentu yang betul-betul alami, atau sabun bayi. Itu pun terkadang masih terasa kering di ruangan ber-AC, belum lagi kalau mandi sebelu…

a guide or a prostitute?

“Where does your guess come from?” a guy asked me.
“My guess?” I was confused.
“Yes, your guess. Where did he get you from? Where does he come from? He must own a lot of money.” He asked me back.
“Where did he get me?” I was still confused.

It was a long time ago, and I was unaware that being brown means you can only either be a prostitute or, in a polite way, a tour guide. It was the first experience for me, but certainly not the last.

In Jakarta, Indonesia, a taxi driver openly asked how much money do I get from my ‘white guess’, how did I find him, what kind of services that I give to him, and whether he will pay my food/ travel, etc, outside my so-called rate. Another taxi driver asked if I am a prostitute because I was, according to him, wearing a too humble outfit, but stay in an expensive apartment.

In Phnom Penh, Cambodia, tuk-tuk drivers usually stare at me with a very nasty look when my white husband talks to them to arrange the trip (he's been living in Cambodia longer …

Memanfaatkan patah hati

Dulu sekali, saya sempat patah hati mahadahsyat. Kalau dingat-ingat, rasanya berlebihan, tapi waktu itu sakitnya bukan main. Bukan cuma mental, tetapi juga fisik. Kerjaan saya menangis saja berhari-hari, jadi malas makan, atau kadang jadi terlalu banyak makan yang tak sehat. Malas keluar rumah, malas bergaul, rasanya depresi betul. Rasanya ingin pergi ke dunia baru yang isinya orang-orang baru yang tidak saya kenal. Rasanya ingin tidur terus, tidak bangun-bangun sampai rasa sakitnya tiba-tiba hilang. Bahkan ketika bergaul pun, kerjaan saya curhat melulu. Mungkin sampai  teman-teman jengah mendengar curhatan saya.
Tulisan ini tidak akan bicara tentang hubungan tersebut, melainkan soal bagaimana bertumbuh paska hubungan. Belakangan saya sering membaca artikel soal hubungan dan proses pencarian hubungan, tetapi, hampir tidak ada yang berbicara soal bagaimana mengatasi kegelisahan paska hubungan. Bagaimana rebound dari patah hati. Kita ini masyarakat yang mengagung-agungkan punya pasanga…

utang pernikahan

Semalam saya ngobrol soal pernikahan dengan seorang teman. Saat menikah dulu, dia harus mengundang ribuan tamu atas permintaan keluarga. Tabungannya ludes, tapi tekadnya membahagiakan orang tua tercapai. Katanya, uang bisa dicari, tapi membahagiakan orang tua tidak mudah diwujudkan.

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman lain bercerita bahwa keluarga ingin merayakan pernikahan di gedung yang terbilang cukup mewah. Saya ingat, karangan bunga dari berbagai perusahaan terkemuka terpampang di depan gedung. “Aku akhirnya ya ngutang ke bank, Rik.”

Saya juga dengar ada yang kemudian terbelit masalah keuangan lantaran pernikahan yang besar-besaran.

Saya tidak percaya bahwa kebahagiaan Ibu hanya terletak pada seremoni pernikahan. Keinginan mengadakan perayaan pernikahan adalah sekadar keruwetan manusia dalam berhubungan sosial. Saat menelepon Ibu pekan lalu, saya katakan pada Ibu, kalau Ibu ingin saya melakukan seremoni pernikahan, saya ingin permintaan tersebut datang dari kesadaran (conscio…