Posts

First Travel dan betapa seksisnya media kita

Image
Sudah lihat foto bibir Annisa Hasibuan bertabur kristal Swarovski? Atau fotonya yang menggunakan jubah putih bulu-bulu di tengah salju? Atau mungkin Anniesa sedang berpose manjah di pepohonan musim gugur? Foto Anniesa bercadar? Juga bahkan foto Anniesa tanpa make up dalam bui? Sudah tahu apa merek tas dan harga busana yang dikenakan Anniesa? Berapa biaya perawatan wajahnya dan make up apa yang digunakannya?

Media kita memang sangat kreatif ketika harus mengelaborasi dan mengomentari kehidupan perempuan. Entah perempuan ini tersangka kriminal, atau seorang menteri sekalipun. Berita soal tato dan rambut baru Menteri Susi pada suatu kala melebihi berita tentang kebijakannya dan pencapaiannya dalam melindungi nelayan lokal. Pernah juga baca berita tentang jam tangan merah punya Menteri Sri Mulyani dan betapa sederhana baju batik yang dikenakannya? Atau cat rambut mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Miranda Goeltom?

Sementara itu, apa kita pernah tahu berapa harga batik Menteri Darmin N…

orang tua Indonesia lebih suka liat anaknya kawin dari pada bahagia

Image
Belakangan, banyak betul bergelimpangan tulisan yang makin memperbesar jurang anak muda dan orang tua. Si anak muda bilang: orang tua di Indonesia itu cuma pengen liat anaknya kawin, ga pengen lihat anaknya bahagia. Si orang tua bilang: anak zaman sekarang sok tahu dan susah dibilangan. Kemudian masing-masing menghabiskan waktu untuk saling berasumsi tentang yang lainnya.

Dua pekan lalu saya dan Ibu membicarakan salah satu artikel yang membahas hal ini. Kata Ibu: “Setiap orang tua pasti ingin anaknya bahagia!” Dia sering kali berkata: "Mama sih yang penting teteh seneng," ketika saya meminta pendapat. Padahal di sisi lain Ibu juga tidak bahagia atas keputusan saya hanya menikah di city hall saja. Dia tetap ingin kami menikah dengan cara yang menurut dia lebih benar dan memenuhi ekspektasi masyarakat. Yungalah, lagi-lagi urusan ekspektasi masyarakat kan.

Mungkin sampai invasi mahluk luar angkasa ke Indonesia pun, pola pandang kami tetep nggak akan ketemu. Saya tahu kami akan…

Tanggapan untuk Tanggapan Mahasiwa Plesir*

Dear Mas Farchan, maaf kalau saya tuman, berani-beraninya memberi tanggapan untuk tanggapan. Siapalah saya, boro-boro jadi pejabat eselon IV, selesai sekolah bisa dapat pekerjaan atau tidak saja hati ini masih kejet-kejet.

Malam kemarin, saya baru selesai cuci piring dan bersiap tidur, ketika seorang teman mengirimkan tautan menuju tulisan Mas Farchan. Sungguhpun saya kira tulisan tersebut sarkasme semata karena saya nda pernah kepikiran bahwa orang bisa senyinyir itu. Habis membaca, saya cuma ketawa-ketawa dan langsung tidur. Adem ayem saja.
Keesokan paginya, ramai betul rupanya perbincangan tentang tulisan Mas Farchan. Sebetulnya, saya tak menyalahkan penulis juga, sih. Bagi mereka yang belum pernah sekolah master, apalagi kalau pas sekolah sarjananya santai, pasti akan menganggap sekolah ke luar negeri itu: eat, travel, selfies, repeat. Apalagi kalau stalking instagram temen-temen yang sedang bersekolah, pas sudah itu eat, travel, selfies, repeat.

Padahal, yang nggak keliatan di in…

Mengapa Perppu Pembubaran Ormas tidak perlu

Akhir 2014 lalu, banyak organisasi masyarakat, termasuk Muhammadiyah, menggugat keberadaan UU Ormas. Gugatan tersebut dikabulkan sebagian, sebagaimana dibacakan Ketua MK Hamdan Zoelva, katanya negara tidak boleh membelenggu kebebasan masyarakat dalam mengatur urusan organisasinya yang menjadi wilayah otonomi masyarakat.

Hampir tiga tahun berlalu, ternyata pemerintah belum puas juga. Pekan ini Jokowi baru saja menandatangani Perppu No 2/ 2017, atau yang dikenal dengan Perppu pembubaran Ormas. Perppu ini muncul menggantikan UU No 17/ 2013 yang kalah dalam gugatan tersebut. Padahal, dari pada ditambal sulam menjadi Perppu (setelah sebelumnya ditambal-sulam berulang kali), UU Ormas ini baiknya dihapus saja, karena isinya tumpang tindih dengan banyak peraturan lain.
Koalisi Kebebasan Berserikat (KKB) yang juga menang dalam gugatan Judicial Review terhadap UU Ormas pernah melakukan analisa terhadap UU tersebut dan menemukan bahwa: 6 pasal sudah diatur dalam UU tindak pidana terorisme dan pe…

wartawan pria kulit putih dan perempuan kulit berwarna

Pada akhir musim semi (atau mungkin awal musim panas) tahun ini, saya mengikuti liputan investigasi seorang wartawan penerima Pulitzer. Seorang kulit putih, tinggi besar, berusia matang, berkewarganegaraan Amerika. Tak hanya buku, bahkan katanya karya tulisnya pernah juga difilmkan.

Perjalananan selama seminggu di kapal patroli pulau-pulau terluar milik kementerian, lalu di kapal nelayan sewaan untuk menginvestigasi kapal karam dari Perang Dunia Kedua, berjalan terbilang lancar. Saya yakin, salah satu yang membuat lancar adalah karena si wartawan ciamik penerima Pulitzer ini adalah kulit putih, dan pria. Kalau dia perempuan, akan lain cerita.

Misalnya saja, saat kami harus mewawancara puluhan mantan pelaut yang terugikan oleh sebuah perusahaan pelayaran asal Korea. Dia memberi perintah yang sangat detil kepada beberapa orang yang dia hire untuk membantu proses wawancara puluhan mantan pelaut. Sangat detil sampai ke bagaimana jenis jawaban yang dia cari, dan apa yang dia harapkan ada …

Teman Perempuan

Saya tumbuh besar tanpa punya teman dekat karena domisili selalu berpindah-pindah setiap 5 tahun. Saya tidak pernah punya teman yang, misalnya, sudah 20 tahun berteman baik. Yah, paling-paling saya cuma punya satu teman yang saya kenal sejak TK kecil, itu pun tak terlalu dekat, dan teman yang saya kenal sejak kelas 6 SD. Namun, tak satupun yang dekat-dekat amat sampai saya bisa ceritakan urusan percintaan, atau karir ke mereka.

Saya tak pernah memikirkan urusan pertemanan ini sebelumnya, sampai pekan lalu ketika sahabatnya Giles berkunjung dan membicarakan soal best man. Katanya, dia kecewa kami tak melakukan upacara pernikahan, karena dia ingin sekali berpidato di pernikahan Giles. Lalu saya pikir, siapa yang kira-kira akan saya pilih untuk berpidato kalau kami memutuskan untuk mengadakan acara pernikahan?

Ketika saya bilang saya tak memikirkan urusan pertemanan, bukan berarti saya pikir teman itu tidak penting. Sebelumnya, saya hanya tak pandai saja menjaga hubungan pertemanan jarak…

Seminggu tanpa sabun dan sampo

Hari ini menandai tepat seminggu percobaan mandi tanpa sabun dan keramas tanpa sampo. Awalnya saya pikir ide ini biasa saja. Toh manusia sebelum kenal sampo dan sabun juga hanya mandi dengan air mengalir. Apalagi, sudah banyak juga ornag lain melakukan percobaan yang sama. Namun, ketika saya bercerita kepada teman kantor bahwa sudah hampir seminggu saya tidak menggunakan sabun, reaksi mereka sungguh mengagetkan. Menurut mereka, ini adalah percobaan yang aneh. Sebab itu, saya jadi ingin membagikan pengalaman ini.

Kenapa awalnya saya terpikir untuk melakukan percobaan ini?

Karena kulit saya sangat sensitif. Kulit wajah sih biasa saja. Tapi kulit tubuh sangat sensitif terhadap sabun mandi. Sabun biasa membuat kulit sangat kering, rasanya seperti retak-retak, dan kadang terasa panas karena iritasi. Sebab itu saya hanya dapat menggunakan sabun mandi merek tertentu yang betul-betul alami, atau sabun bayi. Itu pun terkadang masih terasa kering di ruangan ber-AC, belum lagi kalau mandi sebelu…