Monday, December 5, 2016

Pilih-pilih sekolah

Saya menulis artikel ini karena beberapa waktu lalu ada calon mahasiswa yang bingung mau pilih antara beasiswa untuk ke Yale, atau beasiswa dari USAID. Lama betul dia bolak-balik, maju mundur, tak juga yakin atas satu atau lainnya.

Saat dia bolak balik curhat, pertanyaan pertama saya saat itu cuma satu dan tak berubah-ubah, "Kamu pengen sekolah di Yale karena sudah cocok dengan kurikulum, professor, mata kuliah, tujuan hidup, dan kotanya, atau cuma karena keren aja gitu kalau kuliah di Yale?" 

Banyak calon mahasiswa yang silau dengan nama besar. Sebut saja Yale dan Harvard, orang pasti langsung terperangah. Padahal bahaya betul kalau pilih sekolah cuma karena nama besar atau ranking. Ranking dan nama besar tidaklah penting, yang paling penting apakah kamu cocok dengan kurikulum, atmosfir kampus, dan kehidupan sosial di kota yang akan dituju. Karena sekolah S2 di Amerika bisa brutal, dan kenyamanan adalah nomor satu. Setidaknya menurut saya.

Saya mendapat LoA (Letter of Acceptance) dari empat kampus di Amerika Serikat. Satu kampus adalah kampus yang saya inginkan, dan tiga lainnya pilihan dari pemberi beasiswa (kami diberi kesempatan mengajukan empat kampus, namun dari seluruh kampus yang saya ajukan, cuma satu yang disetujui). Kenapa saya memilih kampus ini, alasan generalnya karena kurikulum, tiga kampus lain meski sama-sama Komunikasi Lingkungan, tetapi berada di bawah Sekolah Komunikasi, kampus saya saat ini di bawah Sekolah Lingkungan. Namun, selain kurikulum, banyak betul hal-hal penting yang jarang dibahas di artikel-artikel soal kuliah di luar negeri.

Hal pertama yang sering dilihat orang adalah nama besar dan ranking, selain itu, tentu juga penting untuk mencari tahu soal professor dan hal-hal lain terkait akademik. Kalau kamu niat mencari sekolah, pekerjaan rumah macam ini pasti sudah dipenuhi. Namun, apalagi hal-hal penting di luar ranking, dan urusan akademik lain yang sering terlupa saat pilih-pilih kampus?

Atmosfir kampus
Saat mencari-cari kampus, jangan untuk membaca review di internet tentang kampus tersebut. dari review-review di internet, saya memahami kenapa saya memilih kampus ini dan tidak kampus lain (misalnya karena kampus lain sangat akademis dan riset, dan tidak fokus pada aplikasi seperti kampus saya saat ini). Juga apakah kampusmu sangat kompetitif dan memiliki atmosfir yang saling sikut-sikutan, atau saling bahu-membahu.

Saya bukan orang yang kompetitif dan tidak merasa harus berkompetisi dengan orang lain. Satu-satunya kompetisi yang paling penting dalam hidup saya adalah dengan diri sendiri. 

Pada hari pertama penerimaan mahasiswa baru, provost di kampus berkata: "you are here because you are amazing, but remember that you are just a human, please remember to take care of yourself. Graduate life is going to be hard, there will always be a time when you are full of doubt and think that it was a mistake that you are chosen to be in this school. Remember, we don't make mistake in choosing our scholars, when the doubt come, take a rest, take care of ourselves. There is no need to compete, we have enough master degree for everyone. Help each other, and take care of yourself."

Ucapan tersebut sangat cocok dengan filosofi dan kepercayaan saya, sebab itu saya senang-senang saja bersekolah di sini. Namun, bagi mereka yang kompetitif dan sukanya bersaing dengan teman sekolah, mungkin mereka akan sengsara di kampus macam ini.

Kota
Seorang teman kampus menolak LoA dari Yale dan memilih bersekolah di kampus yang sama dengan saya lantaran alasan sederhana: ogah tinggal di New Heaven. Iya, kota adalah variabel penting saat memilih sekolah.

Lama betul saya googling soal kota-kota yang akan jadi tempat tinggal dua tahun ke depan. Tidak cuma lihat pendapatan per kapita, inflasi, serta fasilitas umum (transportasi umum, taman, rumah sakit) di kota tersebut, tetapi juga kehidupan sosial. Misalnya, saya langsung menolak salah satu dari empat kota tersebut lantaran Bloomberg menyebutnya sebagai "the best city to raise small family with kid", untuk orang yang tadinya tinggal di kota dengan 20 juta jiwa, penjelasan tersebut seolah berkata: kota ini membosankan kalau kamu perempuan muda yang suka main sana-sini. Banyak hal yang harus kamu pastikan dari sebuah kota, misalnya apakah dia berada di bible belt, yang artinya akan sangat konservatif, ataukah dia super hipster dan liberal. Juga pastikan apakah kota calon tempat tinggal termasuk dalam kategori food desert, kalau iya, bagaimana cara mengatasinya, apakah kamu akan memiliki kendaraan pribadi, ataukah kampusmu menyediakan kartu akses agar dapat menggunakan transportasi umum gratis. 

Rata-rata usia mahasiswa
Kampus yang saya pilih memiliki rerata usia mahasiswa 25 tahun, artinya kebanyakan mahasiswanya telah bekerja setidaknya 1 tahun sebelum kembali ke sekolah. Ini adalah usia ideal bagi saya karena berada di sekitar teman-teman yang terpaut jauh usianya bisa jadi fokus pembicaraan sangat berbeda, dan fase kehidupan juga sangat berbeda.

Fokus sekolah/ departemen/ kampus
Apakah kampus yang kamu tuju terkenal sebagai pencetak pebisnis handal, atau ahli politik? Apakah kampus tersebut 'dekat' dengan wall street, atau dekat dengan aktivisme? Penting untuk mengetahui orientasi kampus karena ini akan terkait dengan minatmu. Misalnya saja, kampus saya saat ini terkenal sangat kuat dan sebagai salah satu pelopor Keadilan Lingkungan, hal ini akan cocok bagi saya yang memiliki latar belakang aktivisme karena orientasi kampus juga akan tercermin dalam pilihan mata kuliah.

Fasilitas kampus
Selama di Jakarta, saya selalu menghabiskan waktu 2-3 jam sehari, 4-5 kali dalam seminggu untuk berolah raga. Sebab itu, fasilitas gym dan running track di kampus sangat penting. Kampus saya memiliki tiga gym, dan kelas-kelas group exercise. Selain itu kampus juga memiliki fasilitas untuk mengantar mahasiswa yang terpaksa harus pulang malam, namun khawatir terhadap keamanan. Jadi, pastikan apa minat ekstrakulikuler dan kenyamanan kamu, dan apakah kampus memfasilitasi hal tersebut.

Budaya dan keragaman 
Berapa banyak mahasiswa internasional di kampus yang kamu tuju? Seberapa terbuka penduduk lokal terhadap budaya baru? Hal ini sangat penting karena kamu akan berada di tempat yang sama sekali baru, dan memiliki teman yang seragam, tidak ramah, dan tidak toleran tidak akan membantu. Pastikan mereka memiliki keragaman yang baik, serta tidak white supermacist.

Ketahui apa yang kamu mau(!!!)
Last but not least, know what is important to you, do not compromise for what is essential for your life. Set your priority right because you will not just be a student, you will be a person, and being a person is even harder. As my provost say, you are amazing, but you are just a human. A burned out human, will not be able to do things right. Be a fully human, don't go to a place that makes you less human.

Saturday, November 19, 2016

Fitting a village in an apartment building

My grandmother used to live in a small beautiful village, an hour drive from Jakarta, the capital of Indonesia. Right in front of her house was a very productive beautiful wetland where the locals cultivated fish and ducks for consumption, with huge trees surrounding. There were one mushola (a small community's praying room) and six houses around the wetland, five of them were owned and lived in by three generations of the same family. On the west side of the wetland were rice fields and farms. Meanwhile tea plantation was in the far west of the village.

My grandmother’s house was surrounded by low fences with a one-meter-tall gate as an entrance. Then there was a long path with exotic fruit trees and flowers before the porch, before the front door. The house itself was surrounded by rambutan garden. It was an ideal preferred environment and territory for the family. At least that is how I remember that place from when I used to live there and the weekly visit later on.

Stereotypically the locals usually having a lot of kids--because they believe more kids give you more financial opportunity, and less access to education. Most of the generations who were born before the 80’s are fulfilling the hard labor market for the textile factories surrounding, which was started to operate at the 80’s. Due to lack of education, their lands usually being sold in little pieces to new settlers anytime they need money. As the parents get older, the remaining piece of land at the end will be divided for eight to nine children, so each kid will have small piece of land to build their house among the new settlers. Hence the rising of the density, resulted in smaller living area, and bigger environmental problems.

The village has changed physically and mentally, as I saw when I paid visit earlier this year. The wetland was converted into residential area, creeks have been used for untreated wastewater disposal, trees and birds are disappeared, and bunch of new settlers occupied more spaces. Once an ideally preferred environment and territory, now have less adequate physical setting as a preferable place to live. However, generations of local people who grew up in the village for decades still have the well-developed cognitive maps, positive feeling, as well as connection, both social connection to the community and to the land. In the meantime, conversation about forced eviction was getting more intense throughout the years. Local people predict eviction might happen anytime soon, and it will never be easy.

One of the solution offered by the government to avoid tumultuous on the day of forced eviction is by relocating the local people to a high apartment building with thousands of people living there. Here is when the problems of The Pruitt-Igoe Housing Project replicates.

Forced eviction is a big problem in big cities throughout Indonesia, especially Jakarta. The relations between government and developer, plus lack of knowledge about social, psychological and pro-urban-poor economy system on physical removal, resulted in violence. As human is a territorial animal who are attached to a certain physical space, most of the local people refuse to be removed from their roots. Meanwhile the government never learn how to make a good urban planning to help transform a village to become an urban area without messing with the local people’s territory. Violence and human right abused have been used to overcome this situation. However, the local people usually give a good fight and government will face a hard time. Local people will fight well in their own territory the familiar place where they have control. In their territory, people also have a strong sense of community, cooperation, as well as social commitment to reach the same goal among the settlers: to remain stay in their own land.

It will not be easy to force local people to leave their territory and their root as they will suffer the loss of connection to the land where they feel accepted. Only in their own territory human and animal can do what they want, and functioned the most effective. More than that, losing the preferred physical, social, psychological environment will also cause them losing their social interaction among friends and bigger family circle. Meanwhile, the high-rise apartment buildings from the government designed with many intrinsic problems: small living area, no buffer zone from public to private space, no pre-familiarization, and so on and so forth...

This situation creates to a lose-lose situation for the local people who become unrooted anywhere, they lost connection and territory to their land, and can’t cope with the new space. If only government help them with pre-familiarization to the new place, and change a little bit of the apartment design to give a buffer zone, it might work better.

However, I believe better option for this problem is to have a better urban planning with a pro-poor urban citizen mindset, to help keeping their preferable environment and territory, while fitting with the transition from a village to urban area.

Example on how Jogjakarta Provincial Government help village to keep preferable environment
while transforming to urban area without relocating the locals


Sunday, November 13, 2016

Kemenangan Trump adalah kekalahan Kemanusiaan

Hari Selasa lalu kami menyaksikan sejarah baru di Amerika Serikat, seorang pemerkosa, patriarkis, rasis, misoginis terpilih oleh sistem electoral college untuk menjadi presiden mulai Januari nanti, hingga empat tahun ke depan. Bukan sejarah yang menyenangkan bagi mayoritas masyarakat Amerika. Ya, mayoritas.

Amerika tidak memilih Presidennya langsung seperti di Indonesia, Electoral College lah yang memilih presiden. Kalau mereka memilih langsung, Hillary Clinton yang akan keluar sebagai pemenangnya karena menang suara meski tipis. Sebab itu saya katakan mayoritas. Donald Trump menang karena hitungan algoritma tertentu memilih electoral college yang pada akhirnya memilih Trump. Sudah tiga kali electoral college menggagalkan calon dari Partai Demokrat, termasuk pada tahun 2000, saat Al Gore urung menjadi presiden.

Satu hal yang agak mengganggu bagi saya adalah bahwa pemerintah tidak mengakomodasi warga negara untuk menggunakan hak suara. Bahkan angka Golput di Amerika mencapai 46%. Hal ini bisa jadi karena mereka memang tidak peduli, atau juga karena tidak memiliki akses lantaran hari Pemili bukanlah hari libur, sehingga banyak pekerja dengan jam kerja intensif tidak dapat memilih.

Saya tak pernah melihat hal begini seumur hidup, begitu juga menurut teman-teman yang berasal dari Amerika. Rabu pagi, semua orang terlihat begitu khawatir, sedih, frustrasi, kecewa, marah. Namun juga berusaha untuk saling memberi semangat dan energi positif kepada satu-sama lain. Saya tak pernah melihat solidaritas sebesar ini, saat semua orang berusaha saling menguatkan, dan memberi ruang untuk harapan. Sangat menarik berada di Ann Arbor dan menyaksikan semua emosi di sekitar saya sejak Selasa malam, saat beberapa teman mulai menangis menyadari perubahan besar yang akan terjadi.

Ann Arbor adalah semacam kantung kecil masyarakat teredukasi, liberal, dan cenderung lebih progresif dari kota-kota di sekitarnya. Ann Arbor berada di Michigan, yang merupakan swing state, alias tidak teguh haluan politiknya. Pada Pemilu lalu Michigan menjadi basis Republikan, namun 90% penduduk Ann Arbor memilih Demokrat. Saking berbedanya dengan kota sekitar, seorang herbalis yang saya wawancara sepekan sebelum hari Pemilu bercanda bahwa Ann Arbor ini kota iluminati, dan sering dianggap tidak ada dalam keputusan pemerintahan.

Di kantung liberal ini, pekan lalu bisa jadi pekan terburuk bagi penduduknya. Saya dikelilingi oleh wajah kuyu dan pucat pasi. Mungkin wajah saya juga begitu. Kemenangan Trump adalah kekalahan bagi kemanusiaan. Kekalahan bagi para pembela iklim, penjaga lingkungan, dan ilmuwan. Beberapa hari lalu saja dia sudah mulai menunjuk Myron Ebell, seorang yang sangat skeptis soal perubahan iklim, untuk memimpin EPA, badan lingkungan Amerika.

Kemenangan Trump adalah kekalahan bagi perempuan di seluruh dunia. Sebagai pemimpin negara besar, Trump akan menjadi panutan jutaan orang, padahal mulutnya Trump comberan banget kalau sudah bicara soal perempuan. Santai saja dia merendahkan perempuan dan mengomentari tubuh perempuan, sambil melegitimasi bahwa perempuan harus memuaskan tatapan laki-laki (male gazing). Belum lagi komentar penuh kebencian terkait ras dan agama lain yang terus menerus dilancarkan selama masa kampanye. Saya nggak ngerti lagi sih Fadli Zon seakrab apa sama Trump sampe bisa bilang Trump baik-baik saja sama Islam.

Sehari sejak kemenangan Trump, teman yang tinggal di negara bagian lain mendapat surat edaran dari asosiasi mahasiswa muslim. Menurut surat tersebut serangan terhadap muslim di Amerika adalah yang tertinggi sejak kejadian 9/11. Mereka menyarankan perempuan sebaiknya ditemani laki-laki jika ingin beraktivitas di luar rumah. Lalu, baru saja lima menit yang lalu saya mendapatkan surel peringatan kejahatan yang mengatakan bahwa ada laporan tentang seorang pria kulit putih yang memaksa perempuan berjilbab untuk membuka jilbabnya. Pria itu mengeluarkan korek api dan mengancam akan membakar perempuan tersebut apabila dia enggan membuka jilbabnya*. Dikatakan bahwa polisi sedang menyelidiki kasus ini. Sangat mengerikan bahwa minoritas pendukung Trump di Ann Arbor bisa sebegitu vokalnya di ruang publik, di kota yang begitu liberal. Halo Fadli Zon?

Trump dengan kampanyenya yang terus menerus merendahkan manusia lain menjadi semacam melegitimasi bagi banyak perbuatan dan perkataan tercela. Tak lagi ada suci sejak dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Adanya kebencian dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Cuma butuh sehari saja hingga teman saya yang berkewarganegaraan ganda Puerto Rico dan Amerika Serikat didatangi pria kulit putih di tempat umum sembari berkata “You go home to your country, Trump doesn’t want you to be here, this is for white only,” begitu kalau tidak salah ucapan mereka kepada teman yang jelas-jelas lahir di Amerika. Hal yang sama juga terjadi pada pacarnya teman yang keturunan Asia-Amerika. Bukan berarti kamu boleh berkata demikian kepada mereka yang tidak lahir di Amerika, hanya saja, yang lahir di Amerika saja dibegitukan, apalagi saya yang cuma numpang sekolah dan dibayari pula sama pemerintahnya. Bisa muntab mereka.

Hari berkabung

Rabu lalu, adalah hari berkabung. Sebelum berangkat kuliah, saya hanya bisa memeluk teman serumah yang terisak. Dia terus-terusan berkata: I can’t believe this; many people are going to suffer from this result, the poor are going to be even more vulnerable.

Setiap professor mengambil waktu untuk membicarakan dan memahami apa yang baru saja terjadi. Beberapa orang mulai terisak, bahkan ada yang menangis tak henti. Salah satu professor memainkan “We shall overcome” (anthem dari gerakan masyarakat sipil di Amerika, mungkin setara dengan Darah Juang kalau di Indonesia) saat kelas dimulai, dan meminta maaf kepada mahasiswa non-Amerika, memastikan bahwa hasil pemilu tidak merepresentasikan masyarakat Amerika pada umumnya. Profesor lain menyarankan mahasiswa untuk meninggalkan kelas apabila butuh kontemplasi untuk memahami apa yang sedang terjadi. Sementara bagi mereka yang membutuhkan teman bicara, kampus menyediakan ruangan khusus. Rektor dan Dekan bahkan mengirimkan surat edaran kepada seluruh mahasiwa agar tetap bersemangat dan tidak patah arang, persoalan lingkungan tak bisa menunggu empat tahun lagi, kita pasti bisa berbuat sesuatu. Juga memberi daftar 10 acara terkait hasil pemilu ini bagi mereka yang membutuhkan dukungan dari rekan-rekan sekitar.

Salah satu professor menyarankan untuk tidak mengecek media sosial hingga akhir pekan guna menenangkan hati. Pada kuliah terakhir mengenai transisi, kami mengganti percakapan menjadi: bagaimana premis dan prinsip dalam mata kuliah tersebut dapat diaplikasikan untuk Amerika saat ini, bagaimana kita bertransisi ke pemerintahan baru tanpa kehilangan resiliensi. Sementara dari kejauhan, yel-yel dan orasi dari teman-teman yang sedang protes di ruang terbuka kampus masuk ke ruang-ruang kuliah.  Lalu saat kuliah berakhir, dia cuma berkata: “be kind to each other, even when that person has a different opinion than you. Be kind to that person in order to be kind to yourselves, don’t projecting your anger to him. We’re all hurts, hurting each other won’t help. Show your empathy, that is the best way to heal,”

Pada hari rabu semua orang berusaha untuk saling simpati dan berempati. Namun, jelas terlihat wajah-wajah kuyu yang berusaha menenangkan temannya itu juga butuh ditenangkan, perlu diberi kepastian bahwa negaranya tidak akan berbuat gila seperti mengahalau muslim untuk memasuki Amerika, atau menghentikan progress terkait hak azazi manusia dan perubahan iklim. Meski demikian, tak sekalipun nama Trump disebut, tak sekalipun. Semua orang seperti memahami rasisme sudah ada jauh sebelum Trump, hanya saja Trump membuat rasisme seolah-olah wajar dan dapat diterima. Semua orang berusaha berbesar hati, sekesal apapun mereka terhadap bakal presiden terpilih, yang lebih penting dari pada mencela dan berkeluh kesah adalah mencari cara agar bisa berkontribusi positif dalam keadaan yang setidak enak apapun.

Kemenangan Trump adalah dukungan bagi rasisme, islamophobic, dan sikap misoginis. Kemanangan Trump adalah kekalahan bagi kemanusiaan, sebab itu kita tetap harus bersikap manusiawi agar bisa menunjukan bagaimana kemanusiaan sebenarnya.























*PS. Teman-teman University of Michigan langsung bereaksi soal insiden jilbab tersebut, malam nanti mahasiswa akan melakukan aksi anti diskriminasi di Diag.









Thursday, October 13, 2016

Perempuan Sukabumi dan laki-laki Arab

Taksi terakhir yang saya tumpangi di Jakarta adalah taksi hijau yang biasa mangkal di apartemen di bilangan Benhil. Hal pertama yang ditanya pengemudi taksi saat itu adalah sudah berapa lama saya tinggal di apartemen tersebut, dan apakah saya berasal dari Sukabumi. 

Rupanya apartemen tersebut tipikal sebagai tempat tinggal pria Arab dan perempuan asal Sukabumi. Saya tak mengerti mengapa si pengemudi berbicara dengan nada merendahkan perempuan Sukabumi, tapi saya mendapat kesan bahwa nilai-nilai yang dia anut menganggap perempuan Indonesia yang tinggal di apartemen tersebut adalah bukan perempuan baik, sekali lagi, menurut nilai yang dia percaya.

Saya jelaskan kepada pengemudi bahwa saya tak lagi tinggal di Jakarta dan baru tiba di Kamboja malam sebelumnya. Saya hanya akan menumpang selama dua hari di apartemen tersebut. Anehnya, dia terus mendesak bahwa saya pasti berasal dari Sukabumi karena fisik saya adalah tipikal kesukaan pria Arab, entah bagaimana maksudnya.

Terlepas dari pandangan dia tentang perempuan asal Sukabumi, saat itu saya marah betul. Bukan karena dianggap perempuan Sukabumi, tetapi karena diobjektifikasi sedemikian rupa. Namun, marah kepada si pengemudi hanya akan membuang energi sia-sia. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah mengedukasi mereka. Marah kepada mereka yang seksis (terutama lantaran betapa buruknya infrastruktur di masyarakat terkait pendidikan kesetaraan gender) hanya akan membuat saya sama buruknya. Ketika saya bilang sama buruknya, saya tidak menyangkut-pautkan dengan level sekolah formal atau pekerjaan mereka, tetapi semata pada betapa seksisnya mereka.

Saya katakan kepada si pengemudi bahwa saya sudah tidak tinggal di Jakarta sesudah bekerja di Jakarta selama tujuh tahun dan tinggal di daerah Kuningan. Saya juga akan pindah ke Amerika esok hari, sebab itu kenapa saya hanya menumpang saja di apartemen teman dan tidak mencari tempat tinggal sendiri. Komentar pengemudi kemudian adalah: 1. Pakaian saya terlalu sederhana untuk seseorang yang akan pindah ke Amerika dan sudah pernah ke luar negeri, 2. Saya pasti pindah ke negara "maju" lantaran ikut suami (surprise! Not!).

Rupanya dalam mental map si pengemudi, perempuan dianggap tidak bisa mencapai apapun tanpa laki-laki. Kira-kira begini:

1.     Perempuan tidak mampu tinggal di tempat layak semacam Apartment B tanpa sokongan dari laki-laki è pernyataan soal perempuan Sukabumi dan pria Arab.
2.     Perempuan tidak mampu dapat pekerjaan layak dan kehidupan yang dia inginkan kalau bukan karena laki-laki è pernyataan soal ke luar negeri karena (jalan-jalan dengan) suami.
3.  Perempuan Indonesia yang pindah ke negara "maju" tidak bisa melakukan hal tersebut dengan kemampuan sendiri è perempuan Indonesia cuma bisa tinggal di negara maju karena ikut suami.
4.    Lebih parah lagi, perempuan tidak bisa sukses kalau tidak memuaskan male-gazing è berpakaian terlalu sederhana.

Lebih dari tiga hal tersebut, saya masih ingat betapa tidak nyaman dan marahnya saya saat dia terus menerus mengobjektifikasi tubuh saya sampai pada akhirnya saya harus berkata: Pak, saya tidak suka sama pembahasannya, deh. Dan dia dengan entengnya menjawab: saya kan hanya memuji harusnya bangga dong. Saya marah betul sampai akhirnya berceramah: Pak saya sudah bangga sama diri saya dan pencapaian saya tanpa harus dipuji dengan cara yang merendahkan, dan dengan pandangan yang menelanjangi. Kalau istri bapak atau anak bapak “dipuji”—kalau pakai istilah bapak—dengan cara yang sama, apa bapak bangga atau bapak harap mereka bangga? Nggak dong, karena ini bukan memuji, ini menghina, dilihat dengan pandangan dan omongan yang menelanjangi dan menghakimi. Juga merendahkan derajat saya sebagai manusia yang punya hak dan kemampuan yang sama dengan laki-laki. Ujar saya sembari menahan kesal.


Saya tak mau marah dengan cara yang tak santun, karena amarah hanya akan mendistraksi inti pesan yang berusaha saya sampaikan. Saya juga tak mau langsung keluar begitu saja dari taksi, karena tak adil kalau saya men-judge tanpa membuka ruang diskusi, juga, karena dia harus tahu bahwa perbuatannya tersebut tidak terpuji, lagi pula, saya ogah memendam rasa marah sendirian. Saya masih ingat betapa saya gemetar karena menahan amarah dan berusaha mengatakan hal tersebut dengan tegas namun santun. Saya marah kepada pengemudi karena dia merasa berhak mengobjektifikasi saya sedemikian rupa dan mengaggap hal tersebut lumrah-lumrah saja. Saya marah kepada pengemudi karena perempuan dianggap begitu rendahnya sebagai barang yang siklus hidupnya cuma berkutat pada disukai dan tidak disukai laki-laki. Lebih dari itu, saya marah dan merasa dicurangi oleh masyarakat, tatanan masyarakat dan sistem sosial. Masyarakat macam apa yang melanggengkan tindakan, sikap, dan pikiran manusia yang bisa-bisanya menghina perempuan sebegitu dalamnya?